BUKU
AJAR
Sekolah :
SMP N 1 Petarukan
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : IX/2
|
Standar Kompetensi
|
: 9.
Memahami isi pidato/khotbah/ceramah
|
|
Kompetensi Dasar
|
: 9.1
Menyimpulkan pesan pidato/khotbah/ceramah yang didengar
|
Materi Pembelajaran
ü
Penyimpulan
terhadap pidato/khotbah/ceramah yang
didengarkan
Pidato adalah
pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang
banyak atau publik dalam sistuasi
dan tujuan tertentu. Ada berbagai contoh pidato, misalnya pidato Kepala Dinas P
dan K, pidato kenegaraan, pidato
politik, ceramah ilmiah, ceramah keagamaan, dan lain sebagainya. Karena pidato
dan ceramah sifatnya sekali ucap, maka untuk dapat memahami isi pidato tersebut
diperlukan konsentrasi yang sungguh-sungguh.
Kamus : pidato n 1 pengungkapan pikiran dl bentuk kata-kata yg ditujukan kpd
orang banyak; 2 teks atau naskah yg disiapkan
untuk diucapkan di depan
khalayak: — politisisangat
memukau simpatisannya; berpidato mengucapkan (membacakan) pidato;
Hal-hal penting yang harus
diperhatikan dalam sebuah pidato adalah:
1. Topik pidato,
2. Tujuan pidato,
3. Permasalahan yang diuraikan dalam pidato,
4. Sebab-sebab timbulnya permasalahan, dan
5. Solusi yang diberikan pembicara.
Seseorang yang berbicara tentu
mempunyai tujuan tertentu. Berikut ini beberapa tujuan penyampaian pidato.
a. Memotivasi
Pidato dikatakan memotivasi
jika pembicara berusaha memberikan semangat, membangkitkan kegairahan atau
menekan perasaan yang kurang baik, serta menunjukkan rasa hormat dan
pengabdian.
b. Memersuasi
Pidato dikatakan memersuasi jika pembicara berusaha memengaruhi keyakinan
atau sikap mental para pendengar.
c. Melakukan
tindakan
Pidato dikatakan mempunyai tujuan melakukan tindakan jika pembicara dalam berpidato menghendaki pendengar
untuk bertindak sesuatu.
d. Menginformasikan
Pidato dikatakan menginformasikan jika pembicara ingin
memberitahukan atau menyampaikan
sesuatu kepada pendengar agar mereka
bertambah pengetahuannya.
e. Menghibur
Pidato dikatakan menghibur jika pembicara ingin menggembirakan orang yang mendengar pembicaraannya
atau menimbulkan suasana gembira pada suatu pertemuan.
Standar Kompetensi : 9 Memahami isi pidato/khotbah/ceramah
Kopetensi Dasar : 9.2Memberi komentar tentang isi
pidato/ceramah/khotbah.
Materi Pembelajaran
ü
Cara memberi komentar terhadap pidato /
ceramah / khotbah dan implementasinya
Hal-hal yang
perlu diperhatikan agar bisa memberi komentar yang baik:
a.
Mendengarkan dengan
penuh perhatian
b.
Menilai dengan
objektif
c.
Memberikan komentar
dengan bahasa yang menarik dan komunikatif
d.
Mencatat hal-hal
penting tentang isi ceramah
Materi
ceramah memang biasanya berisi hal-hal penting. Namun, dari yang penting itu
ada yang bisa dicatat sebagai hal inti yang merupakan pokok-pokok isi ceramah.
(buku paket
hal.91)
Standar
Kompetensi : 10. Mengungkapkan
pikiran, perasaan, dan informasi dalam pidato
dan diskusi
Kompetensi Dasar : 10.1 Berpidato/berceramah/berkhotbah
dengan intonasi yang tepat
dan artikulasi serta volume suara yang jelas.
Materi Pembelajaran
Pidato adalah penyampaian uraian
secara lisan tentang sesuatu hal di depan umum. Teks pidato yang baik memenuhi
beberapa aspek berikut:
·
Pidato
ditulis dengan topik yang aktual/sesuai dengan tema.
·
Pidato
ditulis dengan topik yang kontekstual.
·
Topik
pidato dibahas dengan lengkap dan jelas.
·
Pidato
mengemukakan masalah dan solusi.
·
Pidato
menggunakan humor.
·
Pidato
ditulis dengan menggunakan bahasa yang formal.
·
Pidato
ditulis dengan mempertimbangkan pendengar.
·
Pidato
tidak boleh lari dari maksud dan tujuan pidato (agar pendengar melakukan
sesuatu, mempengaruhi pendengar, menghibur, memotivasi atau menyampaikan
informasi).
Kerangkan teks
pidato pada umumnya terdiri hal-hal berikut.
·
Pembukaan
(pendahuluan), meliputi: salam pembuka, ungkapan syukur, tujuan pidato, sapaan.
·
Isi,
meliputi: inti masalah, ilustrasi atau contoh dan penjelasan.
·
Penutup,
meliputi: simpulan,saran, himbauan, ucapan terima kasih, ucapan
permohonan maaf, harapan dan salam penutup.
Cara melatih
memahami dan menyimpulkan isi sebuah khotbah:
1). Mendengarkan khotbah dengan khusuk
dengan tidak menyibukkan hati kepada masalah lain yang tidak ada hubungannya
dengan isi khotbah.
2). Menjaga konsentrasi dengan memusatkan
perhatian dan pendengaran ke arah khotbah.
3). Mempertajam daya ingat dengan
menyimpan setiap pesan khotbah.
4). Mengendapkan dan menyimpulkan isi
khotbah dengan cara merenungkan, dan menjalani nasihat-nasihat khotbah.
Cara berpidato / ceramah / khotbah dan
implementasinya
Hal-hal yang
perlu diperhatikan ketika tampil berpidato sebagai berikut.
a. Persiapan
yang memadai
lakukan persiapan
yang meliputi: persiapan diri, kesehatan jasmani dan rohani, persiapan materi
yang akan disampaikan, dan informasi tentang calon pendengar.
b. Kecakapan
berbicara
Lakukan pelatihan
yang meliputi: latihan vokal, latihan bahasa, dan latihan olah gerak serta
ekspresi.
c. Keterampilan
pendukung
Lakukan upaya
memiliki keterampilan pendukung antara lain keahlian mengendalikan emosi,
konsentrasi, berpikir spontan, menum,buhkan kharisma, dan memahami situasi.
Standar Kompetensi : 10. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan
informnasi dalam pidato dan diskusi
Kompetensi Dasar : 10.2 Menerapkan prinsip-prinsip diskusi
Materi Pembelajaran
ü Penerpan prinsip-prinsip diskusi
Pengertian
diskusi adalah bentuk
tukar ide/pikiran dalam musyawarah yang direncanakan atau dipersiapkan antara
dua orang atau lebih mengenai topik tertentu dengan dipandu seorang pemimpin
diskusi.
Diskusi juga biasa disebut dengan percakapan terpimpin.
Tujuan diskusi adalah untuk mencari pemecahan masalah, menampung pendapat,
pandangan dan saran dari peserta diskusi.
Adapun beberapa faktor yang
menentukan keberhasilan dalam diskusi adalah sebagai berikut:
1. Moderator atau Pempimpin Diskusi
Tugas seorang moderator adalah:
1. Moderator atau Pempimpin Diskusi
Tugas seorang moderator adalah:
§ Membuka diskusi
§ Menjelaskan latar belakang masalah, maksud pembahasan, tema
dan tujuan diskusi
§ Mengarahkan jalannya diskusi sehingga proses tanya jawab
dapat berlangsung dengan baik.
§ Membuat rangkuman dan menyimpulkan diskusi
§ Menutup diskusi
2. Notulis
Notulis adalah orang yang membuat notulen atau catatan singkat mengenai jalannya diskusi serta hal yang dibicarakan dan diputuskan.
Notulis adalah orang yang membuat notulen atau catatan singkat mengenai jalannya diskusi serta hal yang dibicarakan dan diputuskan.
Notulisbertugas mencatat hal-hal penting selama jalannya
diskusi seperti pendapat, usulan dan keputusan hasil diskusi.
3. Penyaji atau Narasumber
Adapun tugas narasumber adalah sebagai berikut:
Adapun tugas narasumber adalah sebagai berikut:
§ Menyiapkan bahan atau materi diskusi
§ Menyampaikan materi kepada peserta diskusi
§ Menjawab pertanyaan dan tanggapan dari peserta diskusi
4. Peserta Diskusi
Peserta diskusi dapat menyampaikan pendapat dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut
Peserta diskusi dapat menyampaikan pendapat dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut
§ Menyampaikan pendapat dengan jelas dan lancar
§ Memberikan alasan, fakta atau contoh yang logis sebagai
penunjang
§ Menggunakan bahasa yang sopan
Pada diskusi, seringkali terdapat perbedaan pendapat dalam
pemecahan suatu masalah. Penolakan atau penyanggahan pendapat orang lain harus
disertai alasan logis yang menguatkan pendapat atau penyanggahan tersebut.
Ada beberapa etika yang harus diperhatikan ketika melakukan
penolakan atau penyanggahan, diantaranya adalah sebagai berikut:
§ Penyampaian sanggahan atau penolakan sesuai dengan topik
masalah dan disertai pernyataan yang masuk akal.
§ Menggunakan bahasa yang sopan dan halus
§ Penyampaian sanggahan harus dilakukan disaat yang tepat,
tidak boleh memotong pembicaraan orang lain.
§ Menghormati pendapat orang lain, meskipun berbeda dengan
pendapat pribadi.
Standar Kompetensi : Membaca
11. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca
intensif, dan membaca cepat.
Kompetensi Dasar : 11.1. Menemukan gagasan dari beberapa
artikel dan buku melalui kegiatan membaca ekstensif.
Materi Pembelajaran
ü
Menemukan Gagasan dari Beberapa Artikel dan Buku
Melalui Kegiatan Membaca Ekstensif
Menemukan Gagasan
Bacalah secara sekilas wacana
berikut, kemudian buatlah beberapa catatan penting dari wacana tersebut secara
berkelompok untuk menentukan gagasannya!
Cara Membaca Ekstensif (Sekilas)
Pertama, bacalah dengan cepat
bacaan yang berjudul Simulasi Pemilu yang Menguatkan Keyakinan berikut!
Caranya, ikuti langkah berikut!
a. Tempatkan pandangan mata agak masuk ke dalam pada setiap awal baris! Bukan tepat di huruf pertama.
b. Gerakkan mata ke samping kanan dengan cepat, meloncat-loncat dalam dua sampai tiga kata! c. Jangan membaca kata demi kata!
d. Temukan kata-kata kuncinya! Pahami maksud kalimatnya! Loncatilah bagian-bagian yang tak penting!
e. Tentukanlah gagasannya!
Caranya, ikuti langkah berikut!
a. Tempatkan pandangan mata agak masuk ke dalam pada setiap awal baris! Bukan tepat di huruf pertama.
b. Gerakkan mata ke samping kanan dengan cepat, meloncat-loncat dalam dua sampai tiga kata! c. Jangan membaca kata demi kata!
d. Temukan kata-kata kuncinya! Pahami maksud kalimatnya! Loncatilah bagian-bagian yang tak penting!
e. Tentukanlah gagasannya!
Contoh Artikel membaca ekstensif
Simulasi Pemilu yang Menguatkan Keyakinan
Tiada jalan mundur bagi
pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung. Yang ada, maju terus
karena hajat demokrasi itu bisa dilaksanakan di Indonesia.
Optimisme itulah yang semakin bersemi ketika simulasi mengenai pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung sukses dilaksanakan kemarin. Simulasi itu diselenggarakan Centre for Electoral Reform (Cetro) dan melibatkan lebih dari 1000 pelajar kelas satu dari tujuh SMU di Jakarta.
Simulasi itu memang sengaja melibatkan pelajar SMU kelas satu. Merekalah yang pada 2004 nanti untuk pertama kali memiliki hak suara.
Jadi, sekali berenang dua pulau terlampaui.Yaitu, selain melakukan simulasi, juga memperkenalkan sistem pemilihan yang baru kepada pemilih pemula.
Dalam simulasi itu, setiap kandidat presiden memaparkan programnya lengkap dengan janji-janjinya bila terpilih. Lalu, diadakan debat publik menampilkan sesama kandidat. Kepada rakyat yang berhak memilih diberi pula kesempatan mengajukan pertanyaan langsung kepada sang calon presiden .
Akhirnya, tibalah saatnya mencoblos. Kesimpulan, pemilihan presiden dan wakil peresiden secara langsung dapat dilaksanakan pada 2004. Sebuah kesimpulan yang penting, bahkan sangat penting, di tengah keraguan yang disembunyikan bahwa pemilihan presiden secara langsung belum waktunya dilaksanakan di Indonesia.
Alasannya pun bermacam-macam, dari yang sangat praktis hingga yang terdengar mulia, tetapi merendahkan rakyat. Alasan sangat praktis, misalnya, tidak cukup waktu persiapan, terlebih karena undang-undangnya pun hingga sekarang belum beres.
Alasan mulia, tetapi merendahkan, contohnya, bahwa rakyat negeri ini belum siap menghadapi pemilihan presiden secara langsung. Bahkan dibuat-buat agar seram, bahwa pemilihan presiden secara langsung potensial menimbulkan konflik di level masyarakat, di tingkat akar rumput.
Apa pun alasannya, ada kecenderungan diam-diam di kalangan elite partai politik untuk menunda pelaksanaan pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung. Caranya, sengaja atau tidak sengaja memperlambat penyelesaian undang-undang politik yang diperlukan. Kalangan DPR tampak berleha-leha, hidup tanpa produktifitas.
Memilih presiden dan wakil presiden secara langsung memang bukan perkara yang menyenangkan bagi elite partai. Sebab, tidak ada lagi ruang bagi dagang sapi, untuk bagi-bagi kursi. Juga, tidak ada lagi peluang untuk menjadi king maker yang menentukan bukan mereka, melainkan rakyat yang memiliki hak suara.
Maka, dari sudut apa pun pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung jelas tidak menguntungkan, terutama bagi partai yang sedang berkuasa. Dari sudut money politicpun semakin mahal dan semakin sulit untuk membeli jutaan suara di masyarakat dibanding hanya membeli ratusan suara di MPR. Semakin gampang untuk dibongkar, sebab kian banyak mulut yang disuap semakin banyak pula yang bocor.
Simulasi yang dilakukan Cetro bukanlah simulasi yang sempurna. Ia juga bukan replika dari kenyataan yang sesungguhnya. Tetapi, dari sudut moral politik, simulasi itu berhasil menguatkan kembali keyakinan bahwa pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung merupakan obat yang sehat bagi lahirnya pemimpin baru bangsa ini.
Optimisme itulah yang semakin bersemi ketika simulasi mengenai pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung sukses dilaksanakan kemarin. Simulasi itu diselenggarakan Centre for Electoral Reform (Cetro) dan melibatkan lebih dari 1000 pelajar kelas satu dari tujuh SMU di Jakarta.
Simulasi itu memang sengaja melibatkan pelajar SMU kelas satu. Merekalah yang pada 2004 nanti untuk pertama kali memiliki hak suara.
Jadi, sekali berenang dua pulau terlampaui.Yaitu, selain melakukan simulasi, juga memperkenalkan sistem pemilihan yang baru kepada pemilih pemula.
Dalam simulasi itu, setiap kandidat presiden memaparkan programnya lengkap dengan janji-janjinya bila terpilih. Lalu, diadakan debat publik menampilkan sesama kandidat. Kepada rakyat yang berhak memilih diberi pula kesempatan mengajukan pertanyaan langsung kepada sang calon presiden .
Akhirnya, tibalah saatnya mencoblos. Kesimpulan, pemilihan presiden dan wakil peresiden secara langsung dapat dilaksanakan pada 2004. Sebuah kesimpulan yang penting, bahkan sangat penting, di tengah keraguan yang disembunyikan bahwa pemilihan presiden secara langsung belum waktunya dilaksanakan di Indonesia.
Alasannya pun bermacam-macam, dari yang sangat praktis hingga yang terdengar mulia, tetapi merendahkan rakyat. Alasan sangat praktis, misalnya, tidak cukup waktu persiapan, terlebih karena undang-undangnya pun hingga sekarang belum beres.
Alasan mulia, tetapi merendahkan, contohnya, bahwa rakyat negeri ini belum siap menghadapi pemilihan presiden secara langsung. Bahkan dibuat-buat agar seram, bahwa pemilihan presiden secara langsung potensial menimbulkan konflik di level masyarakat, di tingkat akar rumput.
Apa pun alasannya, ada kecenderungan diam-diam di kalangan elite partai politik untuk menunda pelaksanaan pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung. Caranya, sengaja atau tidak sengaja memperlambat penyelesaian undang-undang politik yang diperlukan. Kalangan DPR tampak berleha-leha, hidup tanpa produktifitas.
Memilih presiden dan wakil presiden secara langsung memang bukan perkara yang menyenangkan bagi elite partai. Sebab, tidak ada lagi ruang bagi dagang sapi, untuk bagi-bagi kursi. Juga, tidak ada lagi peluang untuk menjadi king maker yang menentukan bukan mereka, melainkan rakyat yang memiliki hak suara.
Maka, dari sudut apa pun pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung jelas tidak menguntungkan, terutama bagi partai yang sedang berkuasa. Dari sudut money politicpun semakin mahal dan semakin sulit untuk membeli jutaan suara di masyarakat dibanding hanya membeli ratusan suara di MPR. Semakin gampang untuk dibongkar, sebab kian banyak mulut yang disuap semakin banyak pula yang bocor.
Simulasi yang dilakukan Cetro bukanlah simulasi yang sempurna. Ia juga bukan replika dari kenyataan yang sesungguhnya. Tetapi, dari sudut moral politik, simulasi itu berhasil menguatkan kembali keyakinan bahwa pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung merupakan obat yang sehat bagi lahirnya pemimpin baru bangsa ini.
Dikutip
dari Media Indonesia,
18
November 2002
Mengutip Pernyataan dari Artikel atau Buku
Mengutip pernyataan dari
artikel atau buku merupakan salah satu indikator penting dalam karya ilmiah.
Artikel atau buku itu disebut sebagai rujukan kepustakaan. Rujukan kepustakaan
dapat dipakai sebagai satu di antara indikator untuk menunjukkan seberapa jauh
wawasan penulis (Kisyani-Laksono, 1992).
Rujukan kepustakaan pada hakikatnya berfungsi memudahkan pembaca melihat sumber dokumen yang digunakan penulis. Yang perlu dikenali penulis dalam membuat rujukan kepustakaan antara lain bahwa setiap sumber rujukan sekurang-kurangnya memiliki unsur-unsur kepustakaan: nama pengarang, judul tulisan, tempat dan tahun terbit, nama penerbit. Dalam isi, rujukan kepustakaan berwujud catatan pustaka, adapun di bagian akhir berwujud daftar pustaka.
Catatan pustaka yang ada dalam isi suatu karya ilmiah harus terdapat dalam daftar pustaka, demikian juga sebaliknya.
Catatan pustaka, seperti halnya daftar pustaka, sebaiknya mencantumkan rujukan mutakhir yang tecermin dari angka tahunnya. Walaupun demikian, rujukan lama dapat juga digunakan dengan pertimbangan tertentu. Bahkan, beberapa tulisan sejarah, misalnya, mewajibkan adanya bahan rujukan bertahun lama.
Contoh:
Rujukan kepustakaan pada hakikatnya berfungsi memudahkan pembaca melihat sumber dokumen yang digunakan penulis. Yang perlu dikenali penulis dalam membuat rujukan kepustakaan antara lain bahwa setiap sumber rujukan sekurang-kurangnya memiliki unsur-unsur kepustakaan: nama pengarang, judul tulisan, tempat dan tahun terbit, nama penerbit. Dalam isi, rujukan kepustakaan berwujud catatan pustaka, adapun di bagian akhir berwujud daftar pustaka.
Catatan pustaka yang ada dalam isi suatu karya ilmiah harus terdapat dalam daftar pustaka, demikian juga sebaliknya.
Catatan pustaka, seperti halnya daftar pustaka, sebaiknya mencantumkan rujukan mutakhir yang tecermin dari angka tahunnya. Walaupun demikian, rujukan lama dapat juga digunakan dengan pertimbangan tertentu. Bahkan, beberapa tulisan sejarah, misalnya, mewajibkan adanya bahan rujukan bertahun lama.
Contoh:
Harsojo (1998:23) mengatakan
bahwa ....
”Nilai surat sebagai sarana komunikasi terletak pada mudah tidaknya surat itu dipahami pembaca”
(Kisyani-Laksono, l998: 33).
”Nilai surat sebagai sarana komunikasi terletak pada mudah tidaknya surat itu dipahami pembaca”
(Kisyani-Laksono, l998: 33).
Standar Kompetensi : 11. Memahami ragam wacana tulis dengan
membaca ekstensif, membaca intensif dan membaca cepat
Kopetensi Dasar : 11.2 Mengubah sajian grafik, tabel,
atau bagan menjadi uraian melalui kegiatan membaca intensif
Materi Pembelajaran
Pengungkapan
pendapat dalam tulisan sering diperlukan dukungan fakta atau data yang dikemas
dalam bentuk tabel, grafik, bagan, atau peta. Penyajian tabel, grafik, bagan,
atau peta dalam sebuah tulisan sangat membantu pembaca menggali informasi yang
jika disajikan dalam kalimat-kalimat justru sulit dipahami.
Biasakanlah
untuk menggali informasi dari tabel, grafik, bagan, dan peta. Dalam bagian ini
kamu akan dilatih membaca tabel, grafik, bagan, dan peta.
1. Berlatih Memperluas Jangkauan Mata
Untuk
menemukan secara cepat informasi yang diperlukan, kita harus memperlebar daya
jangkau pandangan mata. Pembaca yang baik bukan melihat kata demi kata,
melainkan melihat dua kata atau lebih. Berlatihlah memperluas jangkauan
pandangan mata!
Tempatkan pandangan mata kalian pada garis yang ada di tengah deretan kata berikut. Mulailah dari kata pertama, kemudian perluaslah pandangan mata ke deretan kata di bawahnya.
Catatan
Ketika sampai pada kata ‘sendiri Hatta’, berhentilah! Coba tempatkan titik pandangan mata pada huruf i, apakah kata di ujung kiri (huruf s) dan ujung kanan (huruf a) masih terbaca? Jika, ya, seluas itulah jangkauan matamu. Berlatihlah berulang-ulang!
Tempatkan pandangan mata kalian pada garis yang ada di tengah deretan kata berikut. Mulailah dari kata pertama, kemudian perluaslah pandangan mata ke deretan kata di bawahnya.
Catatan
Ketika sampai pada kata ‘sendiri Hatta’, berhentilah! Coba tempatkan titik pandangan mata pada huruf i, apakah kata di ujung kiri (huruf s) dan ujung kanan (huruf a) masih terbaca? Jika, ya, seluas itulah jangkauan matamu. Berlatihlah berulang-ulang!
2. Mengidentifikasi Isi Grafik, Tabel, atau Bagan
Data
yang disampaikan dalam bentuk tabel, bagan, dan grafik umumnya memang lebih
menarik perhatian pembaca. Data mengenai
siswa, jumlah lulusan, kependudukan dan sejenisnya akan lebih mudah dilihat
bila dinyatakan dalam angka-angka. Angkaangka yang pasti dan rinci tentang
suatu peristiwa dapat diperoleh dari tabel statistik.
Kita dapat memperoleh informasi dari tabel semacam itu. Dari tabel, bagan, dan grafik kita mengetahui secara singkat data mengenai sesuatu.
Dari judul tabel saja kita dapat mengetahui apa, di mana, dan bagaimana perkembangan sesuatu. Ikutilah langkah-langkah standar dalam membaca tabel, grafik, bagan, dan peta berikut!
(1) Pertama, bacalah judulnya. Ini sebuah keharusan. Resapkanlah isi judul tabel, grafik, bagan, dan peta yang kalian hadapi, karena judul memberikan ringkasan yang padat tentang informasi yang akan disampaikan.
(2) Bacalah keterangan yang ada di atas, di bawah, atau di sisinya. Keterangan itu merupakan kunci penjelasan tentang data yang akan disampaikan. Keterangan itu, misalnya dalam bentuk urutan tahun, persentase, atau angka-angka.
(3) Ajukan pertanyaan tentang tujuan tabel, grafik, bagan, dan peta itu. Caranya mudah. Kalian cukup mengubah judulnya menjadi pertanyaan, misalnya di mana, seberapa banyak, berapa kemajuannya, kelompok mana, dan seterusnya. Jawabannya diharapkan ada dalam tabel, grafik, bagan, atau peta tersebut.
(4) Langkah terakhir, bacalah tabel, grafik, bagan, atau peta itu. Ketika membaca, selalu ingat tujuan kalian membacanya, dan informasi apa yang akan kalian perlukan.
Setelah kamu memahami langkah-langkah membaca tabel, bagan, grafik, atau peta tersebut, sekarang bacalah tabel berikut dan jawablah pertanyaan yang menyertainya!
Ikutilah empat langkah seperti yang diuraikan pada awal pembahasaan ini : (1) baca judulnya, (2) baca informasi yang ada pada kolom-kolom di atas, samping, dan bawah, (3) ajukan pertanyaan tentang tabel itu, dan (4) dapatkan jawabannya dalam tabel tersebut.
Kita dapat memperoleh informasi dari tabel semacam itu. Dari tabel, bagan, dan grafik kita mengetahui secara singkat data mengenai sesuatu.
Dari judul tabel saja kita dapat mengetahui apa, di mana, dan bagaimana perkembangan sesuatu. Ikutilah langkah-langkah standar dalam membaca tabel, grafik, bagan, dan peta berikut!
(1) Pertama, bacalah judulnya. Ini sebuah keharusan. Resapkanlah isi judul tabel, grafik, bagan, dan peta yang kalian hadapi, karena judul memberikan ringkasan yang padat tentang informasi yang akan disampaikan.
(2) Bacalah keterangan yang ada di atas, di bawah, atau di sisinya. Keterangan itu merupakan kunci penjelasan tentang data yang akan disampaikan. Keterangan itu, misalnya dalam bentuk urutan tahun, persentase, atau angka-angka.
(3) Ajukan pertanyaan tentang tujuan tabel, grafik, bagan, dan peta itu. Caranya mudah. Kalian cukup mengubah judulnya menjadi pertanyaan, misalnya di mana, seberapa banyak, berapa kemajuannya, kelompok mana, dan seterusnya. Jawabannya diharapkan ada dalam tabel, grafik, bagan, atau peta tersebut.
(4) Langkah terakhir, bacalah tabel, grafik, bagan, atau peta itu. Ketika membaca, selalu ingat tujuan kalian membacanya, dan informasi apa yang akan kalian perlukan.
Setelah kamu memahami langkah-langkah membaca tabel, bagan, grafik, atau peta tersebut, sekarang bacalah tabel berikut dan jawablah pertanyaan yang menyertainya!
Ikutilah empat langkah seperti yang diuraikan pada awal pembahasaan ini : (1) baca judulnya, (2) baca informasi yang ada pada kolom-kolom di atas, samping, dan bawah, (3) ajukan pertanyaan tentang tabel itu, dan (4) dapatkan jawabannya dalam tabel tersebut.
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan singkat!
1) Tabel tersebut berisi apa?
2) Kita tampaknya masih kekurangan guru di berbagai bidang studi! Tunjukkan dalam tabel itu!
3) Tunjukkan tiga bidang studi dengan angka terbesar yang membutuhkan lebih banyak guru!
4) Tunjukkan tiga bidang studi dengan angka terbesar yang membutuhkan guru lebih sedikit!
5) Berapa kebutuhan guru Geografi pada tahun 2002?
Orang sibuk lebih suka mempelajari sesuatu dari grafik statistik. Akan tetapi, tidak semua pendapat disajikan dalam bentuk grafik.
Grafik memungkinkan penyampaian ide yang kompleks secara mudah, dapat memberi gambaran suatu data efektif kepada pembaca. Ciri utama grafik adalah sederhana tapi jelas.
Lakukan kegiatan berikut!
(1) Berkelompoklah lima-lima! Carilah grafik dan bagan di surat kabar!
(2) Pelajarilah dengan saksama bagan dan grafik yang kamu temukan itu!
(3) Diskusikanlah isinya!
3. Memaparkan Isi Grafik, Tabel, atau Bagan ke dalam Beberapa Kalimat
Setelah kamu mendiskusikan
hal-hal tersebut, paparkanlah dengan bahasamu sendiri isi grafik atau bagan
yang sudah kamu diskusikan, kemudian kemukakan di depan kelas!
Berilah kesempatan temanmu untuk bertanya, menanggapi, atau memberi saran mengenai kelengkapan informasi yang kamu kemukakan!
Berilah kesempatan temanmu untuk bertanya, menanggapi, atau memberi saran mengenai kelengkapan informasi yang kamu kemukakan!
Standar Kompetensi : 11
Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif,
dan membaca cepat.
Kopetensi Dasar : 11.3 Menyimpulkan gagasan utama
suatu teks dengan membaca cepat 300 kata permenit
Materi Pembelajaran
ü Menyimpulkan Gagasan Utama Suatu Teks
Menyimpulkan
gagasan utama suatu teks dengan membaca cepat ± 300 kata per menit
Definisi Gagasan Utama
Gagasan utama adalah topik yang diperbincangkan
dalam teks. Kita bisa mengatakan bahwa gagasan utama adalah permasalahan yang
ingin disampaikan penulis. Dia adalah ide dan tujuan penulis dalam membuat
paragraf. Setiap satu paragraf hanya akan memiliki satu gagasan utama yang
dapat terletak di salah satu kalimat.
Beberapa Hal terkait Gagasan Utama
Dengan demikian, berdasarkan hal tersebut, ada hal
yang perlu kita catat mengenai kesalahpahaman siswa dalam menentukan letak
gagasan utama. Tidak sedikit siswa yang menganggap bahwa gagasan utama hanya
muncul di awal dan/atau akhir paragraf. Padahal, gagasan utama dapat muncul di
bagian mana pun sebuah paragraf, apakah di awal, tengah, akhir, campuran, atau
di seluruh kalimat. Sebagai contoh, perhatikanlah dan baca paragraf-paragraf
berikut!
Contoh 1

Pada contoh di atas, permasalahan yang disampaikan
penulis adalah kekisruhan antara KPK dan Polri yang membuat geram masyarakat
(kalimat 1). Hal ini dibuktikan dan diperkuat oleh alasan yang muncul pada
kalimat 3, yaitu terluntanya pemberantasan korupsi. Dengan demikian, paragraf
tersebut adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak di awal paragraf.
Paragraf ini disebut dengan paragraf deduktif.
Contoh 2

Pada contoh
di atas, permasalahan yang disampaikan dalam paragraf adalah mengenaitubuh tetap memerlukan kolesterol dalam batas normal.
Informasi ini terdapat pada kalimat kedua dan dibuktikan oleh penggunaan kata
hubung akan tetapi yang
menyangkal informasi pada kalimat 1. Paragraf ini memberikan kita contoh letak
gagasan utama yang terletak di kalimat 2 (tengah paragraf). Walaupun gagasan
utama berada di tengah paragraf, jenis paragraf ini tetap dinamakan sebagai
paragraf deduktif (sesuai dengan pernyataan Gorys keraf dalam buku Komposisi).
Poin Penting
Gagasan utama atau topik paragraf dapat muncul di
setiap bagian kalimat, yaitu sebagai berikut.
- Di awal paragraf (deduktif),
- di tengah paragraf (deduktif),
- di akhir paragraf (induktif),
- campuran (deduktif-induktif), dan
- dI seluruh bagian paragraf (naratif dan deskriptif).
Standar Kompetensi : 12
Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karya ilmiah
sederhana, teks pidato, surat pembaca.
Kopetensi Dasar : 12.1 Menulis karya tulis sederhana
dengan menggunakan berbagai sumber.
Materi Pembelajaran
ü
Menulis
karya tulis ilmiah sangat penting bagi kita untuk menguasai karya tulis yang
kita tulis.
Sebuah karya tulis ilmiah sangat
bermanfaat jika hal yang dibahasnya sangat berhubungan dengan kehidupan
sehari-hari. Akan tetapi, sebelum kita menulisnya, kamu harus terlebih dahulu
harus melakukan suatu penelitian. Penelitian dalam bentuk kepustakaan (membaca
sejumlah buku) atau secara langsung melakukan percobaan. Sebelum kita memulai
belajar menulis karya tulis ilmiah secara sederhana, ikuti terlebih dahulu
langkah-langkah awal berikut ini:
A. Memahami dan menanggapi
isi bacaan.
Dimaksudkan agar kita membaca terlebih dahulu
pengalaman dari seorang temanmu yang berprestasi dalam penulisan karya tulis
ilmiah. Bertanya dan memahami akan semua penjelasan dari temanmu serta memulai
mengerjakan pelatihan karya tulis tulismu yang disertai oleh temanmu yang akan
membimbing pelatihan tersebut.
B. Menulis
rangkuman bacaan.
Pada saat membuat rangkuman, hal pertama yang harus
kita lakukan adalah membaca dan mengidentifikasi pokok-pokok pikiran yang
disampaikan penulis dalam teks bacaan. Hal tersebut akan membatumu merumuskan
isi rangkuman yang akan ditulis. Kedua, tulislah kerangka karangan dengan
pola pikir kamu sendiri berdasarkan pokok pikiran yang telah kamu
identifikasikan. Ketiga, tuliskan rangkuman berdasarkan kerangka yang kamu
buat.
C. Mengumpulkan
sumber bacaan dan menetapkan topik karya tulis ilmiah sederhana.
Salah satu jenis karya tulis ilmiah yaitu makalah.
Makalah ditulis dengan tujuan sebagai bahan pembahasan dalam suatu forum
ilmiah, misalnya seminar. Langkah awal dalam menulis makalah yaitu menentukan
topik makalah. Topik yang baik adalah topik yang menarik karena actual,
berguna, dan didukung oleh sumber bacaan yang cukup. Topik dapat sekaligus
dijadikan sebuah judul makalah. Langkah menentukan topik makalah dapat dilihat
pada contoh berikut.
Mengumpulkan sumber bacaan ( Berdasarkan
artikel sebelumnya )
Menetapkan topik : Menjaga dan memelihara lingkungan
Pembatasan topik : Cara menjaga dan memelihara lingkungan
Topik makalah : Mewujudkan Lingkungan Hijau
D. Menulis
kerangka karya tulis ilmiah sederhana dalam bentuk makalah.
Makalah merupakan salah satu bentuk
karya tulis ilmiah sederhana. Makalah ditulis dengan tujuan untuk membahas
suatu topik. Makalah dikembangkan secara sistematis dengan menuangkan gagasan
secara runtut. Untuk itu, penulisan makalah perlu dipersiapkan dengan menyusun
kerangka makalah. Kerangka makalah (outline) dibuat dengan tujuan menentukan
pola atau gasir besar isi makalah.
Isi makalah terdiri atas tiga bagian,
yaitu pendahuluan, pembahasan, dan penutup. Dalam bagian pendahuluan, penulis
menjelaskan latar belakang pemilihan topik atau judul, masalah yang dibahas,
dan tujuan penulisan makalah. Pada penulisan makalah pendek, penulis cukup
menjelaskan masalah atau tujuannya. Bagian pendahuluan ditulis dalam suatu
kesatuan
( tidak perlu dirinci dengan penomoran ).
Dalam bagian pembahasan, penulis
membahas secara berurutan masalah atau tujuan penulisan. Pembahasan setiap
masalah atau tujuan dapat dirinci dengan penomoran. Selanjutnya, dalam bagian
penutup, penulis membuat simpulan atas pembahasan yang telah dilakukannya.
Sebagi pertanggungjawaban atas isi makalahnya, penulis menuliskan daftar buku
atau daftar pustaka yang digunakan sebagai bahan rujukan untuk membahas
masalah.
E. Menulis
karya tulis ilmiah sederhana dalam bentuk makalah.
Selanjutnya, kita akan menulis karya
tulis ilmiah sederhana berdasarkan kerangka yang telah kalian tulis. Tulis atau
ketik dengan rapi sebelum kalian gunakan untuk mengerjakan karya tulis ilmiah
sederhana tersebut. Langkah-langkah yang sudah dipahami dan mulai untuk
mempraktekkannya.
F. Menuliskan
rujukan atau sumber pustaka.
Harap diperhatikan untuk pencantuman
buku rujukan atau umber pustaka sangat penting untuk kamu lakukan. Berikut cara
penulisan buku rujukan atau daftar pustaka:
1. Rujukan
atau sumber berupa artikel dari majalah yang mencantumkan nama pengarang,
Zulfikar, Dedy.”Batik Pesisiran Jawa Timur”,
Warta Budaya (03 Januari 2005), hlm.3.
2. Rujukan
atau sumber berupa orang atau majalh tanpa nama pengarang.
Contoh:
“Modifikasi
Motif Batik Pesisiran untuk Busana Pesta”, Warta Budaya. (03 Januari 2005),hlm.13.
3. Rujukan
atau suber berdasarkan buku. Contoh:
Akhadiah, Sabarti. Maidar 6. Arsjad, dan
Sakura H. Ridwan. 1982.
Pembinaan Kemampuan Menulis Bhasa Indonesia.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
G. Menilai
dan merevisi makalah.
Setelah kita menyelesaikan makalah,
tukarkanlah makalah kelompokmu dengan kelompok lain. Lakukanlah penilaian dan
koreksian atau masukan atas makalah yang telah disusun oleh kelompok lain. Ini
dimaksudkan sejauh mana tingkat kepercayaan diri kita dengan hasil yang kita
capai dengan maksimal dan serta membiasakan diri untuk selalu berinovasi,
berkreasi, dan kreatif untuk menindaklanjuti dari karya tulis ilmiah sederhana.
|
Standar Kompetensi
|
: 12. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan
informasi dalam bentu karya ilmiah sederhana, teks pidato, surat pembaca.
|
|
Kompetensi Dasar
|
: 12.2
Menulis teks pidato/ceramah/khotbah dengan sistematika dan bahasa yang
efektif.
|
Materi Pembelajaran
Berpidato
merupakan sebuah skil yang tidak semua orang bisa. seseorang untuk bisa
berpidato diperlukan latihan yang berulang. Pidato merupakan bagian dari Orasi
yang berarti sebuah pidato formal, atau komunikasi oral formal yang disampaikan
kepada khalayak ramai. Salah satu contoh Orator ( orang yang berorasi ) adalah
bapak Ir. Soekarno yang kemampuan berorasinya diakui dunia. Nah, kali ini saya akan membahas mengenai langkah langkah
dalam menulis tekspidato/ceramah/khotbah. Ini
dia...
1. Tema dan Kerangka Pidato
Bagi seorang
Pemula, menulis tekspidato/ceramah/khotbah terlebih dahulu merupakan langkah
yang baik supaya penyampaiannya baik dan tidak ada kesalahan. Ada
langkah-langkah yang harus diperhatikan sebelum menulis teks
pidato/ceramah/khotbah, yaitu :
a. Menentuka tema/pokok masalah
b. Mengetahui latar belakang
pendengar (usia, pendidikan, julah pendengar)
c. Mencari data/sumber bacaan
yang mendukung teks pidato/ceramah/khotbah yang akan disampaikan; dan
d.Membuat kerangka teks
pidato/ceramah/khotbah
Perhatikan sistematika penulisan
teks pidato/ceramah/khotbah berikut!
Setelah memahami
langkah-langkah dan sistematika penulisan, perlu diperhatikan juga penyajian
isi dan bahasa dalam tekas pidato/ceramah/khotbah tersebut, diantaranya :
a. Isi pidato harus sesuai dengan
tema acara kegiatan,
b. informasi yang disampaikan
sesuai dengan kebenaran (tidak mengada-ada/mereka-reka),
c. Menggunakan bahasa yang
efektif
d. Pilihan kata dalam teks tepat
dan jelas, dan
e. Mengunakan bahasa
ungkapan-ungkapan yang sesuai dengan isi teks.
2. Mengembangkan dan
menyunting Pidato
Pengembangan
kerangka dilakukan dengan menguraikan pokok-pokok masalah sesuai dengan
kerangka karangan yang telah dibuat dalam pargraf-paragraf. Untuk itu, perlu
banyak mendengarkan pidato atau membaca naskah pidato sehingga memahami
pola-pola kalimatnya.
Sebelum
menyusun teks pidato, harus dikumpulkan bahan terlebih dahulu. Bahan pidato
tersebut dapat dicari di buku, majalah, koran, internet, atau media lainnya.
Berdasarkan bahan-bahan itulah, teks pidato disusun.
Standar Kompetensi : 12 Mengungkapkan pikiran, perasaan dan informasi dalam bentuk
karya ilimah sederhana, teks pidato, surat pembaca.
Kopetensi Dasar : 12.3 Menulis surat pembaca tentang lingkungan sekolah.
Materi Pembelajaran
Penulisan surat pembaca adalah surat yang ditulis oleh pembaca
yang dimuat dalam surat kabar/koran, majalah yang berisi tanggapan, saran,
keluhan, ajakan, imbauan, ucapan terima kasih, dan lain-lain. Surat
pembaca merupakan surat terbuka yang isinya dapat dibaca oleh siapa saja serta
dapat ditujukan kepada lembaga, pemerintah, perusahaan, kantor, perorangan,
kelompok, atau organisasi.
Rubrik surat pembaca, sesuai namanya, adalah
ruangan dalam surat kabar atau majalah yang memuat surat-surat yang datang dari
pembaca, ditunjukan kepada media massa cetak yang bersangkutan, instansi
pemerintah, lembaga swasta, maupun kelompok dalam masyarakat atau
individu tertentu dengan kriteria masalah yang dikemukakan bersifat umum.
Rubrik surat pembaca memiliki kekuatan tersendiri
dalam membentuk opini khalayak. Karena mampu mempengaruhi opini khalayak,
banyak pembaca yang memanfaatkan surat pembaca untuk menyampaikan keluhan,
kritik atau tanggapan serta protes atas ketidak puasan ataupun informasi lain
yang biasanya berupa permasalahan dari jeleknya pelayanan publik suatu lembaga.
Selain itu, surat pembaca dapat juga berisi rasa ketidakpuasan konsumen, atau
masyarakat atas pelayanan dan pernyataan-pernyataan yang bersifat emosional
seperti keluhan, kritikan, atau pujian.
Surat pembaca bermotif keluhan diartikan sebagai surat pembaca
yang cenderung mengemukakan kesulitan atau perasaan susah yang dialami penulis
sehubungan dengan adanya ketidaklancaran pelayanan. Surat pembaca bermotif kritikadalah surat
pembaca yang berisi atau mengemukakan kesalahan dan kejanggalan yang dilakukan
oleh suatu instansi. Surat pembaca bermotif saran adalah surat pembaca yang berisi
pernyataan atau pikiran yang disampaikan agar dipertimbangkan, dan surat
pembaca yang bermotif pujian ialah pernyataan yang bersifat
penghargaan, rasa terima kasih atas pelayanan yang telah dilakukan suatu
organisasi atau instansi, sedangkan surat pembaca yang bermotif informasi biasanya semata-mata berisi
pemberitahuan tentang sebuah keadaan. Kemudian yang terakhir surat pembaca
berisitanggapan atau
komentar terhadap suatu kejadian atau perbuatan yang dilakukan oleh para
pejabat publik.
Masalah yang dikemukakan dalam surat pembaca
tidak dapat dinilai sebagai masalah yang tidak serius. Seluruh permasalahan
merupakan realitas dalam masyarakat, hanya teknis penyampaiannya disampaikan
secara ringan. Kumpulan surat-surat pembaca dapat dijadikan sebagai sumber
informasi tentang berbagai segi kehidupan masyarakat. Surat pembaca sering
berisi tentang suatu hal yang dapat merugikan nama baik orang atau organisasi
yang terkena atau menolak suatu kebijaksanaan, berisi pernyataan-pernyataan
sanggahan terhadap permasalahan yang tidak benar serta mendukung terhadap
sesuatu hal dan ada juga yang isinya hanya mengungkapkan pendapat tanpa diikuti
oleh perasaaan mendukung atau menolak sesuatu. Contoh surat pembaca berupa keluhan adalah seperti yang ditulis oleh Prita
Mulyasari melalui internet yang mengakibatkan kasusnya diangkat ke pengadilan.
Kelihatannya sederhana, namun hal tersebut sangat fatal dan berdampak
bagi perseorangan maupun publik yang ingin menuliskan keluhan surat pembaca
melalui jalur media cetak maupun internet.
http://sekapursirihbasasin.blogspot.com/2011/11/jurnal-struktur-argumentasi-surat.html
Rubrik surat pembaca,
digolongkan sebagai surat karena isi teks tersebut biasanya ditujukan
kepada seseorang atau sebuah instansi atau organisasi. Teks itu ditulis
oleh para pembaca dari media cetak tersebut. Itulah sebabnya dikenal
dengan rubrik surat pembaca. Isi surat pembaca sangat beragam. Sebagian
besar isi surat pembaca berisi keluhan atau komplain atas
sebuah permasalahan. Di samping itu ada juga orang yang
mengirim surat pembaca berisi saran atau kritikan, baik kepada media cetak itu sendiri maupun kepada pribadi atau
instansi tertentu.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
menulis surat pembaca, antara
lain berikut.
1. Surat pembaca dapat berupa permasalahan
akan sesuatu serta usul atau saran terhadap sesuatu.
2. Surat pembaca dapat berupa tanggapan
terhadap suatu permasalahan
3. Surat pembaca tidak bersifat rahasia,
karena isi surat diketahui oleh masyarakat banyak
4. Surat pembaca ditulis dengan bahasa
yang sopan, jelas, dan komunikatif.
Adapun langkah-langkah menulis surat pembaca
adalah berikut,
1. Menentukan Hal-hal
Pokok dalam Surat Pembaca
Hal-hal pokok yang ada menyangkut jawaban dari: apa, di mana, kapan, siapa,
mengapa, dan bagaimana
2.
Menentukan Permasalahan/Usulan/Saran yang Akan Disampaikan dalam Surat Pembaca
Hal itu dapat berwujud rasa terima kasih, kritikan, pujian, celaan, hinaan, permohonan, penjelasan, dll.
3. Menulis dan
Menyunting Surat Pembaca
Tulislah surat pembaca yang berisi hal-hal yang
terkait dengan lingkungan sekolah. Buatlah surat pembaca itu dalam bentuk
permohonan maaf dan ucapan terima kasih sesuai dengan pengalamanmu!
Hal-hal yang secara nyata membedakan surat pembaca dari teks yang lain sebagai berikut.
1. Struktur
Susunan surat pembaca memang berbeda dari surat-menyurat biasa. Dalam surat pembaca alamat tujuan surat pembaca tidak ditulis dalam bagian tersendiri sebagaimana surat biasa. Namun demikian secara tersirat dapat diketahui surat pembaca itu ditujukan kepada siapa.
2. Gaya bahasa
Gaya bahasa surat pembaca sangat beragam, tergantung pada gaya masing-masing pengirim surat. Ada surat pembaca dengan gaya mempertanyakan, menyindir, mengimbau, bahkan ada yang menulis surat pembaca berbentuk puisi atau anekdot.
3. Kesantunan
Apapun gaya penyampaian dalam surat
pembaca, yang tak boleh dilupakan adalah kesantunan. Entah itu
kritikan, pertanyaan, usulan atau apa pun isinya sebaiknya
disampaikan dengan penuh kesantunan agar tidak
menyebabkan ketersinggungan pihak yang dituju.
Sumber: BSE
Contoh-Contoh surat pembaca:
YTH. REDAKSI MADING SEKOLAH
Kamar Kecil Bau
Beberapa hari saya dan rekan-rekan
selalu menyumbat hidung karena aroma tidak sedap yang bersumber dari kamar
kecil yang terletak dibelakang ruang kelas kami. Lebi-lebih setela istirahat
kedua. Bau tidak sedap ini membuat saya dan beberapa teman merasa tidak nyaman
tinggal dikelas, apalagi arus berpikir atau belajar dikelas.
Saya dan beberapa teman tela menyampaikan kondidi yang memprihatinkan ini
kepada Wali Kelas, tetapi ampai saat ini belum ada tindakan untuk mengatasi
permasalahan tersebut.
Lantas kepada siapa kami harus mengadu? Siapaka yang bertanggung jawab atas
kebersihan kamar keil tersebut? Apakah ada hal lain yang menyebabkan
permasalahan tersebut tidak segera diatasi. Bagaimana bisa belajar dengan baik
kalau saya merasa tidak nyaman. Untuk itu, melalui tulisan ini saya mewakili
kelas IXmemohon kepada yang bertugas dalam
hal tersebut untuk segera mengecek
dan menindak lanjuti keluhan kami.
Standar Kompetensi : 13 Memahami wacana sastra melalui kegiatan mendengarkan
pembacaan kutipan/sinopsis novel
Kopetensi Dasar : 13.1 Menerangkan sifat-sifat tokoh
dari kutipan novel yang dibaca
Materi Pembelajaran
Pengertian Novel
Novel adalah
salah satu karya fiksi, yang merupakan karangan prosa yang panjang mengandung
rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan disekelilingnya dengan menonjolkan
watak dan sifat setiap pelaku (menurut KBBI).
Unsur-Unsur
Fiksi
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun
karya sastra itu sendiri, unsur yang secara langsung turut serta membangun
cerita.
Unsur Ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar
karya sastra itu sendiri, tetapi tidak langsung mempengaruhi bangunan atau
sistem organisasi karya sastra.
Unsur
Intrinksik:
1) Tema :
merupakan pokok persoalan yang menjiwai seluruh cerita. Tema diangkat dari
konflik kehidupan.
2) : dasar cerita; pengembangan cerita.
3) Alur: rangkaian cerita
Dalam alur hubungan tokoh bisa rapat
yaitu memusat pada satu tokoh; atau renggang yaitu tokoh berjalan
masing-masing. Proses alur bisa maju; mundur; atau maju mundur. Penyelesaian
Alur ada alur klimaks dan ada alur anti klimaks.
1. Alur
maju atau alur lurus, yaitu
apabila cerita tersebut disusun mulai dari awal diteruskan dengan
peristiwa-peristiwa berikutnya, dan berakhir pemecahan masalah.
2. Alur
mundur atau alur sorot balik (flashback) yaitu apabila cerita disusun mulai
dari bagian akhir dan bergerak ke depan menuju titik awal cerita.
3. Alur
campuran, yaitu apabila
peristiwa-peristiwa yang ada dalam cerita tersebut disusun secara campuran,
waktu kini ke waktu lampau dan waktu lampau ke waktu kini.
4) Latar/Setting : tempat terjadinya cerita, terbagi menjadi :
§ setting
geografis ----> tempat di mana kejadian berlangsung
§ setting
antropologis ----> kejadian berkaitan dengan situasi masyarakat, kejiwaan
pola pikir, adat-istiadat.
5) Penokohan / Pewatakan :
adalah
pemberian sifat,baik lahir maupun batin pada seorang tokoh atau pelaku yang
terdapat pada cerita. Misalnya: ada tokoh yang antagonis
(jahat) dan ada tokoh yang protagonist (baik) dan menjadi tokoh utama. Penghadiran
tokoh bisa langsung dengan cara melakukan deskripsi, melukiskan pribadi tokoh;
atau tidak langsung dengan cara dialog antar tokoh
6) Sudut pandang
: yang mendasari tema dan tujuan penulisan Penghadiran bisa dengan :
-gaya orang pertama---> penulis terlibat sebagai salah satu tokoh
- gaya orang ketiga ---> penulis serba tahu apa yang terjadi tetapi tidak terlibat di dalam cerita.
- gaya orang ketiga ---> penulis serba tahu apa yang terjadi tetapi tidak terlibat di dalam cerita.
7) Suasana :
yang mendasari suasana cerita adalah penokohan karena perbedaan karakter
sehingga menimbulkan konflik. Dengan konflik pengarang berhadapan dengan
suasana menyedihkan, mengharukan, menantang, menyenangkan, atau memberi
inspirasi.
Si Jamin dan Si
Johan
Oleh: Merari siregar
Si jamin
menelusuri jalan setapak di tengah teriknya sinar matahari. Ia adalah pengemis
kecil yang harus membiayai hidup si johan (adiknya) dan Inem (ibu tirinya yang
sangat kejam). Dalam usianya yang begitu muda,ia harus berperang melawan
keganasan kota Jakarta.
Suatu hari ia
dipukuli Inem (ibu tirinya) karena membawa uang dua puluh Sembilan sen. Kalau
saja ibu kandungnya masih hidup, tentu mereka tidak akan menderita seperti ini
dan ayahnya pun takkan menjadi pemabuk.
Hari demi hari
dilalui Jamin dengan menjadi pengemis dan semua uangnya harus ia serahkan
kepada ibu tirinya.
…………………………………………………………………………………………………..
(Sumber, Ikhtisar Roman Sastra Indonesia,
1999,dengan pengubahan)
Standar Kompetensi : 13 Memahami wacana sastra melalui
kegiatan mendengarkan pembacaan kutipan/sinopsis novel
Kopetensi Dasar : 13.2 Mampu menjelaskan alur
peristiwa dari suatu sinopsis novel
Materi Pembelajaran
Suatu cerita rekaan dapat digolongkan
sebagai novel apabila ceritanya lebih panjang dan kompleks daripada cerpen.
Selain itu, lebih banyak menyuguhkan tokoh, tampilan peristiwa dan latar. Unsur
pembangun novel yaitu intrinsic dan ekstrinsik. Tiga unsure intrinsic yaitu
pelaku, latar, dan alur.
A. Pelaku atau tokoh dan penokohan
~ Tokoh : Individu rekaan yang
mengalami peristiwa atau perilaku didalam berbagai peristiwa dalam cerita.
Sedangkan
~ Penokohan/perwatakan : Penyajian
tokoh dan penciptaan citranya Dallam novel.
Penokohan juga dapat dikatakan
sebagai proses penampilan tokoh dengan pemberian watak, atau kebiasaan tokoh.
Tokoh ada 2 macam :~ Tokoh utama
~ Tokoh bawahan
~ Tokoh utama : Selalu ada dalam
setiap peristiwa dan banyak berhubungan dengan tokoh
lain.
~ Tokoh bawahan : Tokoh sampingan
yang sifatnya hannya sebagai sampingan saja.
B. Latar atau setting
~ Latar : Unsur cerita yang
menunjukkan dimana, bagaiman, dan kapan peristiwa itu berlangsung
~ Latar tempat : Hal-hal yang
berkaitan dengan masalah-masalah geografis.
Latar waktu : Yang berhubungan
denga kehidupan kemasyarakatan.
C. Alur atau Plot : Jalinan peristiwa
didalam novel yang memperlihatkan kepaduan (Konherensi) tertentu yang
diwujudkam oleh hubungan oleh hubungan sebuah akibat, tokoh,tema, atau
ketiganya. Secara garis besar struktur alur sebuah cerita rekaan diganti
menjadi tiga, yang mampu bagian awal, tengah, dan akhir. Bagian awal cerita
mengandung 2 hal, yakni pemaparan (eksposisi) dan ketidakmaparan . Bagian
pertama terdapat konfllik, komplikasi,klimaks. Adapun bagian akhir alur adalah
penyelesaian.
Cara Menjelaskan Alur, Pelaku, dan Latar Novel Serta Implementasinya
Menjelaskan alur cerita, pelaku,
dan latar novel (asli atau terjemahan)
Dalam sebuah novel, setiap tokoh memiliki karakteristik yang
unik dan berbeda satu dengan yang lain. Karakter tokoh dapat dianalisis melalui
dialog antartokoh, deskripsi/gambaran langsung dari pengarangnya, dan pandangan
atau sikap tokoh lain terhadap tokoh tersebut. Alur dalam novel merupakan
urut-urutan kejadian cerita. Pada pelajaran yang lalu kamu telah mempelajari
jenis alur, yaitu alur maju, alur mundur dan gabungan dari dua jenis alur
tersebut. Alur memiliki tahapan. Dalam novel, alur biasanya detail dan
kompleks. Tahapan alur, antara lain pengenalan cerita, pengenalan konflik,
klimaks, antiklimaks, dan berakhir pada penyelesaian.
Cara Mengomentari Kutipan Novel dan Implementasinya
Mengomentari kutipan novel
remaja (asli atau terjemahan)
Kutipan novel biasanya mengambil/mengutip sebagian kecil
dari sebuah novel. Pada pelajaran terdahulu, kamu telah mempelajari kutipan
novel terjemahan. Pada pelajaran kali ini, kamu akan mempelajari bagaimana
menanggapi hal-hal menarik dari sebuah kutipan novel asli. Kutipan novel
berikut adalah kutipan dari novel Y.B. Mangunwijaya yang berjudul Balada
Dara-Dara Mendut. Hal-hal menarik yang akan kamu temukan antara lain
tokoh-tokoh dan perwatakan, bahasa yang digunakan, perjuangan, serta sejarah.
Cara Menanggapi Kutipan Novel Remaja dan Implementasinya
Menanggapi hal yang menarik dari
kutipan novel remaja (asli atau terjemahan).
Karya novel dibangun oleh beberapa unsur intrinsik. Unsur
intrinsik tersebut, antara lain alur cerita, pelaku/penokohan, dan latar
kejadian atau peristiwa. Alur merupakan urutan kejadian dalam cerita novel.
Alur terbagi dalam tiga jenis, yaitu.
1. alur
maju (progresif), yaitu urutan kejadian mengarah ke masa depan,
2. alur
mundur (regresif/flash back), yaitu urutan kejadian mengarah ke masa lalu,
3. alur
campuran, yaitu alur/urutan kejadian yang merupakan gabungan dua macam alur di
atas. Ada alur maju dan ada alur mundur.
Unsur pelaku/penokohan merupakan
tokoh yang menjadi pelaku dalam cerita novel. Pelaku atau tokoh tersebut
mempunyai karakterisasi masing-masing. Ada yang perwatakannya pemarah, tegas,
pemalu dan sebagainya. Latar novel sudah pernah dijelaskan pada pelajaran
sebelumnya. Latar dalam novel memiliki tiga kategori, yaitu latar tempat, latar
waktu, dan latar suasana.
|
Standar Kompetensi
|
:
|
Berbicara
14. Mengungkapkan
tanggapan terhadap pementasan drama
|
|
Kompetensi Dasar
|
:
|
14.1. Membahas
pementasan drama yang naskahnya ditulis siswa
|
Materi Pembelajaran
A. Membahas Pementasan Drama yang Ditulis Siswa
Unsur-unsur yang
terdapat dalam teks drama dan unsur pementasan drama sedikit berbeda. Perbedaan
itu antara lain terletak pada latar dan penghayatan tokoh dalam pemeranan.
Dalam sebuah pementasan drama kamu dapat mengamati unsur-unsur yang terdapat di
dalamnya. Unsur pementasan drama meliputi tokoh, karakter tokoh, alur, latar
atau setting (digambarkan dengan tata lampu, tata suara, tata letak,
background), tema, pesan/amanat. Dalam pembelajaran
berikut ini kamu akan diajak untuk membahas pementasan drama dengan mencatat
unsur-unsur yang menonjol dalam pementasan drama dan memberikan tanggapan
terhadap pementasan drama itu.
Lakukan diskusi kelas untuk memerankan naskah drama hasil tulisan salah satu
temanmu. Pilihlah naskah drama terbaik yang sudah ditulis. Tentukan para pemain
yang tepat untuk memerankan naskah drama tersebut. Apabila para pemain sudah
ditentukan mintalah para pemain untuk memerankan drama itu sebaik-baikya. Kalau
memungkinkan mintalah mereka untuk menyiapkan pementasan itu sebaik mungkin
dengan kostum, tata panggung, dan peralatan pentas lainnya dengan tepat.
1. Mengidentifikasi Unsur Pementasan Drama
Unsur-unsur dalam pementasan drama meliputi alur, tokoh, dialog, setting, tema,
pesan/amanat, kostum, tata lampu, tata musik.. Unsur-nsur itu terdapat dalam
pementasan drama. Karena unsure-unsur itu terdapat dalam pementasan drama.
a. Plot/alur
Plot/alur juga disebut kerangka cerita, yaitu jalinan cerita atau kerangka
cerita dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh
atau lebih yang saling berlawanan.
b. Penokohan dan perwatakan
Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. Penokohan merupakan susunan
tokoh-tokoh yang berperan dalam drama. Tokohtokoh itu selanjutnya akan
dijelaskan keadaan fisik dan psikisnya sehingga akan memiliki watak atau
karakter yang berbeda-beda.
c. Dialog (percakapan)
Ciri khas naskah drama adalah naskah itu berbentuk percapan atau dialog. Dialog
dalam naskah drama berupa ragam bahasa yang komunikatif sebagai tiruan bahasa
sehari-hari bukan ragam bahasa tulis.
d. Latar (tempat, waktu dan suasana)
Latar atau seting yaitu penggambaran waktu, tempat, dan suasana terjadinya
sebuah cerita. Penggambaran suasana dalam pementasan dilukiskan dengan tata
lampu, tata suara, serta background.
e. Tema (dasar cerita)
Tema merupakan gagasan pokok yang mendasari sebuah cerita. Tema dikembangkan
melalui alur dramatik dalam plot melalui tokoh-tokoh antagonis dan protagonis
dengan perwatakan yang berlawanan sehingga memungkinkan munculnya konflik di
anatara keduanya.
f. Amanat
Sadar atau tidak sadar pengarang naskah drama pasti akan menyampaikan sebuah
pesan tertentu dalam karyanya. Pesan itu dapat tersirat dan tersurat. Pembaca
yang jeli akan mampu mencari pesan yang terkandung dalam naskah drama. Pesan
dapat disampaikan melalui percakapan antartokoh atau perilaku setiap tokoh.
2. Menentukan Unsur Drama yang Dianggap
Menonjol dengan Menunjukkan Bukti Pendukung Sesuatu itu
menarik atau tidak menarik karena sesuatu itu memiliki keistimewaan atau
sebaliknya memiliki kelemahan atau kekurangan.Hal ini juga berlaku untuk
pementasan atau pertunjukkan drama.
3. Mengidentifikasi Karakter Tokoh Dalam
Pementasan Drama
3. Mengidentifikasi Karakter Tokoh Dalam
Pementasan Drama
Dengan memperhatikan pementassan drama yang dipertunjukkan
teman-temanmu, kamu dapat mengidentifikasi karakter tokoh-tokohnya. Kamu tentu
masih ingat melalui karakter tokoh yang berbeda atau bahkan berlawanan itulah
konflik antartokoh muncul. Katika konflik sudah terjadi, peristiwa-peristiwa
akan semakin memuncak danmencapai klimaksnya, kemudian biasanya diakhiri dengan
penyelesaian.
Dalam rangkaian peristiwa itulah muncul tokoh-totoh yang berlainan karakternya. Ada tokoh yang baik, tokoh yang jahat, dan ada juga tokoh yang berfungsi sebagai penengah ketika terjadi konflik antara tokoh baik dengan tokoh jahat.
Karakter tokoh-tokoh dalam pementasan drama dapat dilihat dari dialog tokoh itu, percakapan tokoh lain mengenai tokoh itu, bentuk fisik, pakaian atau segala sesuatu yang dikenakan tokoh, serta gerak-gerik tokoh.
4. Mendeskripsikan Fungsi Latar Dalam Pementasan Drama
Latar dalam drama merupakan sesuatu yang melatari terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar atau setting dalam pementasan drama meliputi:
a. waktu terjadinya peristiwa
b. tempat berlangsungnya kejadian-kejadian
c. suasana yang menggambarkan atau melkusikan peristiwa itu terjadi.
5. Menanggapi Hasil Pementasan Drama dengan
Argumen yang Logis
Penonton drama yang baik tidak begitu saja menerima atau menelan segala sesuatu yang ditontonnya. Ia akan kritis terhadap hal-hal yang sekiranya tidak sesuai dalam pementasan itu. Ia akan mengikuti adegan demi adegan, dialog demi dialog, kostum pemain, penataan cahaya, penataan musik, serta penataan suara dengan cermat. Penonton yang kritis seperti itu tidak akan mudah larut dalam suasana. Ia akan mampu memberikan tanggapan dengan argumen yang logis terhadap pementasan itu.
Dalam kegiatan ini kamu dituntut untuk mampu menjadi penonton yang
aktif dan kritis dalam sebuah pementasan drama. Cermatilah dengan baik adeganadegan, dialog, tata panggung, tata lampu, musik, serta tata suara dalam pementasan drama. Dengan pengamatan yang cermat kamu akan mampu memberikan tanggapan yang tepat dengan argumen yang dapat diterima akal terhadap pementasan drama itu. Tanggapan harus disampaikan secara objektif, bijak, jernih, tidak emosional, serta dengan bahasa yang santun dan komunikatif.
Dalam rangkaian peristiwa itulah muncul tokoh-totoh yang berlainan karakternya. Ada tokoh yang baik, tokoh yang jahat, dan ada juga tokoh yang berfungsi sebagai penengah ketika terjadi konflik antara tokoh baik dengan tokoh jahat.
Karakter tokoh-tokoh dalam pementasan drama dapat dilihat dari dialog tokoh itu, percakapan tokoh lain mengenai tokoh itu, bentuk fisik, pakaian atau segala sesuatu yang dikenakan tokoh, serta gerak-gerik tokoh.
4. Mendeskripsikan Fungsi Latar Dalam Pementasan Drama
Latar dalam drama merupakan sesuatu yang melatari terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar atau setting dalam pementasan drama meliputi:
a. waktu terjadinya peristiwa
b. tempat berlangsungnya kejadian-kejadian
c. suasana yang menggambarkan atau melkusikan peristiwa itu terjadi.
5. Menanggapi Hasil Pementasan Drama dengan
Argumen yang Logis
Penonton drama yang baik tidak begitu saja menerima atau menelan segala sesuatu yang ditontonnya. Ia akan kritis terhadap hal-hal yang sekiranya tidak sesuai dalam pementasan itu. Ia akan mengikuti adegan demi adegan, dialog demi dialog, kostum pemain, penataan cahaya, penataan musik, serta penataan suara dengan cermat. Penonton yang kritis seperti itu tidak akan mudah larut dalam suasana. Ia akan mampu memberikan tanggapan dengan argumen yang logis terhadap pementasan itu.
Dalam kegiatan ini kamu dituntut untuk mampu menjadi penonton yang
aktif dan kritis dalam sebuah pementasan drama. Cermatilah dengan baik adeganadegan, dialog, tata panggung, tata lampu, musik, serta tata suara dalam pementasan drama. Dengan pengamatan yang cermat kamu akan mampu memberikan tanggapan yang tepat dengan argumen yang dapat diterima akal terhadap pementasan drama itu. Tanggapan harus disampaikan secara objektif, bijak, jernih, tidak emosional, serta dengan bahasa yang santun dan komunikatif.
|
Standar Kompetensi
|
:
|
Berbicara
14. Mengungkapkan
tanggapan terhadap pementasan drama
|
|
Kompetensi Dasar
|
:
|
14.2. Menilai
pementasan drama yang dilakukan siswa
|
Materi Pembelajaran
ü Pementasan Drama
Menilai Pementasan Drama – Siswa mampu menilai pementasan
drama yang dilakukan oleh siswa.
Perhatikan gambar berikut ini!

Gambar di atas merupakan salah satu pementasan
drama. Di dalam gambar tampak para pemain sedang memeragakan adegan. Terdapat
enam pemain di atas panggung. Pemeran perempuan tampak dikerubungi wartawan
yang mewawancarainya. Beberapa pemeran wartawan memfoto dan merekam video
dengan alat yang digunakannya. Pemain tersebut diketahui sebagai wartawan
karena menggunakan properti drama yang menyerupai kamera.
Demikian salah satu contoh penilaian terhadap
pementasan drama. Kamu pun dapat menilai suatu pementasan drama yang ditonton
secara lebih lengkap. Sebagai contoh, kamu dapat menilai pementasan drama yang
dilakukan oleh teman-temanmu sendiri. Menilai pementasan drama yaitu
menunjukkan kelebihan dan kekurangan dari pementasan drama yang ditonton.
Penilaian terhadap pementasan drama tersebut harus bersifat objektif, yaitu
menilai secara apa adanya sesuai dengan apa yang ditampilkan.
Sebelum menilai pementasan drama, kamu perlu
mengetahui unsur-unsur apa saja yang akan dinilai dalam pementasan drama. Pada
pelajaran sebelumnya, telah dipelajari unsur-unsur yang akan dinilai dalam
pementasan drama. Setelah memahami unsur-unsur tersebut, sekarang saatnya kamu
melakukan penilaian terhadap pementasan drama yang dilakukan oleh
teman-temanmu.
Berikut aspek-aspek penilaian pementasan drama
berdasarkan unsur-unsurnya.
1) Tema
Tema adalah ide utama cerita drama yang dipentaskan. Tema yang baik adalah tema yang menarik bagi penontonnya. Salah satu ciri tema yang menarik adalah mampu membuat penonton menikmati pementasan hingga akhir.
Tema adalah ide utama cerita drama yang dipentaskan. Tema yang baik adalah tema yang menarik bagi penontonnya. Salah satu ciri tema yang menarik adalah mampu membuat penonton menikmati pementasan hingga akhir.
2) Amanat
Amanat adalah pesan moral atau pelajaran yang dapat diambil setelah menonton pementasan tersebut. Penonton dapat mengambil pelajaran dari drama yang ditontonnya secara berbeda-beda.
Amanat adalah pesan moral atau pelajaran yang dapat diambil setelah menonton pementasan tersebut. Penonton dapat mengambil pelajaran dari drama yang ditontonnya secara berbeda-beda.
3) Pemain
Penilaian terhadap pemain drama dapat dilakukan dengan memerhatikan seluruh jalan cerita drama tersebut. Penilaian terhadap pemain mencakup beberapa hal berikut ini.
Penilaian terhadap pemain drama dapat dilakukan dengan memerhatikan seluruh jalan cerita drama tersebut. Penilaian terhadap pemain mencakup beberapa hal berikut ini.
- Penjiwaan para pemain dalam memeragakan karakter tokoh yang diperankan
- Ekspresi wajah pemain sesuai dengan karakter yang diperankan
- Pelafalan atau artikulasi, yaitu kejelasan pengucapan dialog pemain
- Intonasi, yaitu ketepatan tinggi rendahnya suara yang diucapkan
- Volume suara, yaitu nyaring pelannya suara pemain
4) Tata rias
Penilaian terhadap tata rias mencakup kesesuaian riasan yang digunakan dengan karakter tokoh yang diperankan oleh pemain. Misalnya, seorang anak berusia 14 tahun dapat diubah menjadi tampak seperti seorang kakek dengan riasan yang baik.
Penilaian terhadap tata rias mencakup kesesuaian riasan yang digunakan dengan karakter tokoh yang diperankan oleh pemain. Misalnya, seorang anak berusia 14 tahun dapat diubah menjadi tampak seperti seorang kakek dengan riasan yang baik.
5) Tata Busana atau Kostum
Penilaian terhadap tata busana atau kostum dalam pementasan drama mencakup kostum yang digunakan para pemain. Apakah kostum tersebut mewakili karakter yang diperankan oleh pemain tersebut? Apakah kostum tersebut mendukung jalan cerita secara keseluruhan?
Penilaian terhadap tata busana atau kostum dalam pementasan drama mencakup kostum yang digunakan para pemain. Apakah kostum tersebut mewakili karakter yang diperankan oleh pemain tersebut? Apakah kostum tersebut mendukung jalan cerita secara keseluruhan?
6) Tata Panggung
Penilaian terhadap tata panggung mencakup kesesuian penataan panggung dengan latar cerita dalam drama. Situasi di atas panggung harus menggambarkan tempat, waktu, dan suasana yang sesuai dengan cerita yang dimainkan. Selain itu, penggunaan properti drama juga harus sesuai dan mendukung jalannya cerita drama yang dipentaskan.
Penilaian terhadap tata panggung mencakup kesesuian penataan panggung dengan latar cerita dalam drama. Situasi di atas panggung harus menggambarkan tempat, waktu, dan suasana yang sesuai dengan cerita yang dimainkan. Selain itu, penggunaan properti drama juga harus sesuai dan mendukung jalannya cerita drama yang dipentaskan.
7) Tata Suara
Penilaian terhadap tata suara mencakup kesesuaian bunyi dan musik dengan cerita dalam drama. Bunyi dan musik dalam pementasan drama harus mendukung cerita yang dimainkan.
Penilaian terhadap tata suara mencakup kesesuaian bunyi dan musik dengan cerita dalam drama. Bunyi dan musik dalam pementasan drama harus mendukung cerita yang dimainkan.
8) Tata Lampu
Penilaian terhadap tata lampu mencakup kesesuaian pengaturan cahaya atau lampu dengan situasi yang digambarkan dalam drama. Sama halnya dengan tata panggung dan suara, tata lampu juga harus mendukung cerita drama yang dimainkan.
Penilaian terhadap tata lampu mencakup kesesuaian pengaturan cahaya atau lampu dengan situasi yang digambarkan dalam drama. Sama halnya dengan tata panggung dan suara, tata lampu juga harus mendukung cerita drama yang dimainkan.
Poin Penting
- Drama adalah salah satu bentuk karya sastra yang berisi lakon hidup manusia yang ditulis dalam bentuk dialog dan dapat dipentaskan.
- Menilai pementasan drama harus dilakukan secara objektif, yaitu menilai apa adanya sesuai dengan yang ditampilkan.
- Pementasan drama dapat dinilai berdasarkan unsur-unsurnya, yaitu tema, amanat, pemain, tata rias, tata busana, tata panggung, tata suara, dan tata lampu.
|
Standar Kompetensi
|
:
|
Membaca
15. Memahami novel
dari berbagai angkatan
|
|
Kompetensi Dasar
|
:
|
15.1.
Mengidentifikasi kebiasaan, adat, etika yang terdapat dalam buku novel
angkatan 20-30an
|
Materi Pembelajaran
Mengidentifikasi Kebiasaan, Adat, dan Etika dalam
Novel Angkatan 20 dan 30-an
a. Adat
Adat adalah suatu aturan/peraturan yang lazim diturut/dilakukan
sesuai dengan situasi dan waktu tertentu. Adat diartikan sebagai hukum tak
tertulis sehingga bersifat mengikat masyarakat penggunanya. Adat inilah yang akan
menentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Jika tokoh mematuhi adat yang
berlaku, maka ia dianggap tokoh yang baik dan layak ditiru. Sebaliknya, jika
ada tokoh yang menentang atau tidak taat adat biasanya akan dijauhi atau
dihukum sesuai adat yang berlaku.
b. Kebiasaan
Kebiasaan merupakan budaya atau tradisi masyarakat yang
turun-temurun dilakukan. Kebiasaan terkait latar belakang budaya dalam cerita.
c. Etika
Etika berkaitan dengan apa yang dianggap baik atau buruk, atau
sopan-tidak sopan pada kebiasaan tokoh-tokoh ceritanya. Etika berkaitan dengan
moral atau perilaku yang terpengaruh oleh adat dan kebiasaan.
d. Bahasa
Bahasa yang digunakan pada karya sastra Angkatan 20-an dipengaruhi
oleh bahasa daerah. Penggunaan ungkapan dan perbandingan sebagai bentuk kiasan
banyak dijumpai dalam karya sastra angkatan 20-an.
MENGIDENTIFIKASI
KARAKTERISTIK NOVEL TAHUN 20-30 an
|
NOVEL ANGKATAN 20 an
|
NOVEL ANGKATAN 30 an
|
|
Menggunakan bahasa Indonesia
yang masih terpengaruh Melayu
|
Sudah menggunakan bahasa
Indonesia
|
|
Persoalan yang diangkat
persoalan adat kedaerahan dan kawin paksa
|
Menceritakan kehidupan
mesyarakat kota, persoalan intelektual, emansipasi (struktur cerita / konflik
sudah berkembang)
|
|
Dipengaruhi kehidupan tradisi
sastra daerah/lokal
|
Pengaruh budaya barat mulai
masuk dan berupaya melahirkan budaya Nasional
|
|
Cerita yang diangkat seputar
romantisme
|
Menonjolkan nasionalme,
romantisme, individualisme, dan materialisme
|
Contoh :
MENGIDENTIFIKASI KEBIASAAN,
ADAT, DAN ETIKA DALAM NOVEL 20-30an
Novel Azab dan Sengsara (20an)
|
ETIKA
|
ADAT
|
KEBIASAAN
|
|
Suami kadang menyiksa istri
|
Kehidupannya bergotong royong
|
Telekomunkasi jarak jauh asih
menggunakan surat atau telegram
|
|
Orang berpacaran mesih sopan
|
Pernikahan masih menggunakan
sistem perjodohan
|
Pernikahan dipandang dari
bibit, bebet, dan bobot
|
|
Anak patuh terhadap
orangtuanya, walaupun keinginan orangtuanya tidak sesuai dengan keinginannya
|
Masih percaya pada takhayul
atau animisme dan dinamisme
|
Anak laki-laki biasanya pergi
merantau untuk mencari pekerjaan
|
|
Anak membantu pekerjaan
orangtuanya
|
||
|
Persaudaraan masih dipandang
dari harta
|
Novel Sengsara Membawa Nikmat
(30an)
|
ETIKA
|
ADAT
|
KEBIASAAN
|
|
Agama dijunjung tinggi(terutama
Islam)
|
Mengenai warisan, harta benda
yang ditinggalkan oleh yang meninggal menjadi hak/diambil alih oleh keluarga
asal bukan keluarga setelah menikah (Sumatra)
|
Para Pemuda memainkan permainan
sepak raga (prmainan bola kaki)
|
|
Kehidupannya bergotong royong
|
Aturan adat sangat ketat, dan
bagi yang melanggar hukumannya berat
|
Masih jaman penjajahan Belanda
|
|
yang berkuasa sering
semena-mena, bahkan berbuat kejam
|
Penyerahan kekuasaan terhadap
penerusnya dalam suatu daerah diserahkan oleh pemegang jabatan/kekuasaan
sebelumnya
|
Hampir semua pemuda di daerah
tersebut mengenal ilmu bela diri
|
|
Banyak penduduk yang tidak bisa
membaca
|
|
Standar Kompetensi
|
:
|
Membaca
15. Memahami novel
dari berbagai angkatan
|
|
Kompetensi Dasar
|
:
|
15.2. Membandingkan
karakteristik novel angkatan 20-30an
|
Materi Pembelajaran
Sejarah sastra
Indonesia mencatat bahwa pada kurun waktu 1920-1930 telah dihasilkan
novel-novel yang menjadi tonggak sejarah sastra Indonesia. Para pakar sastra
menggolongkan novel angkatan 20-30an sebagai novel tradisi Balai Pustaka.
Disebut novel tradisi Balai Pustaka karena novel-novel itu merupakan kelanjutan
dari karya-karya sastra terbitan Balai Pustaka. Sedang angkatan tahun 1920
sendiri lebih dikenal sebagai Angkatan Siti Nurbaya, karena ditandai dengan
novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli yang sangat terkenal. Karakteristik atau
ciri khas dari sebuah karya sastra sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi
kehidupan masyarakat pada waktu itu. Kalian tentu tahu bahwa pada tahun 20-30an
Indonesia masih dalam cengkeraman pemerintah kolonial Belanda.Penindasan kaum
kolonial telah memposisikan manusia Indonesia waktu itu sebagai budak dan
memunculkan feodalisme.
Kondisi masyarakat memunculkan dua kelompok masyarakat yaitu kelompok orang kaya/saudagar kaya dengan kelompok rakyat miskin. Perbedaan seperti memicu munculnya banyak kisah sebagai ciri karya prosa tahun 20-30an.
Kondisi masyarakat memunculkan dua kelompok masyarakat yaitu kelompok orang kaya/saudagar kaya dengan kelompok rakyat miskin. Perbedaan seperti memicu munculnya banyak kisah sebagai ciri karya prosa tahun 20-30an.
Berikut contoh perbandingan dua
buah novel angkatan 20-30an.
Unsur yang DibandingkanTemaLatar Alur cerita Novel Siti Nurbaya Anak perawan yang harus menikah dengan lelaki tua untuk menutup hutang orangtuanya kepada lelaki itu.Terjadi pada masyarakat Minangkabau,Padang, dan ebagian cerita di Jakarta.Diakhiri dengan kematian tokoh utama Siti Nurbaya dan Syamsulbahri.
Unsur yang DibandingkanTemaLatar Alur cerita Novel Siti Nurbaya Anak perawan yang harus menikah dengan lelaki tua untuk menutup hutang orangtuanya kepada lelaki itu.Terjadi pada masyarakat Minangkabau,Padang, dan ebagian cerita di Jakarta.Diakhiri dengan kematian tokoh utama Siti Nurbaya dan Syamsulbahri.
Novel Azab dan Sengsara
Anak perjaka dijodohkan paksa oleh orangtuanya karena orang tuanya tidak menyetujui gadis pilihan anaknya yang berasal dari keluarga miskin. Terjadi pada masyarakat Minangkabau, daerah Siporok, Padang, dan Medan Sumatera Utara. Diakhiri dengan kesengsaraan tokoh utama Mariamin.
Anak perjaka dijodohkan paksa oleh orangtuanya karena orang tuanya tidak menyetujui gadis pilihan anaknya yang berasal dari keluarga miskin. Terjadi pada masyarakat Minangkabau, daerah Siporok, Padang, dan Medan Sumatera Utara. Diakhiri dengan kesengsaraan tokoh utama Mariamin.
Karakteristik atau ciri khas dari
sebuah karya sastra sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi kehidupan
masyarakat pada waktu itu. Tahun 20-30an Indonesia masih dalam cengkeraman
pemerintah kolonial Belanda. Kondisi masyarakat memunculkan dua kelompok
masyarakat yaitu kelompok orang kaya/saudagar kaya dengan kelompok rakyat
miskin. Perbedaan seperti memicu munculnya banyak kisah sebagai ciri karya
prosa tahun 20-30 an.
Novel zaman sekarang ini sangat
jauh berbeda dengan novel-novel pada angkatan 20-an hingga 30-an. Salah satu
perbedaannya adalah “novel-novel pada zaman sekarang ini banyak menggunakan
bahasa-bahasa modern yang sangat mudah untuk dipahami oleh pembaca. Berbeda
dengan novel angkatan 20-an hingga 30-an, di mana novel-novel tersebut sangat
banyak menggunakan bahasa-bahasa daerah. Khususnya untuk novel ini yang sangat
banyak menggunakan istiah bahasa Melayu khususnya bahasa Minangkabau. sehingga
sulit untuk dipahami.
Novel-novel zaman dahulu juga
menyampaikan kepada kita mengenai cara-cara berhubungan dan bersosialisasi satu
sama lain terutama antara laki-laki dan perempuan yang sesuai dengan ajaran
agama,tata karma, norma, dan adat istiadat yang berlaku di daerah setempat.
Sedangkan novel zaman sekarang tidak mencantumkan hal-hal seperti itu. Bahkan
dengan membaca novel-novel tersebut kita akan terpengaruh untuk melakukan hal-hal
yang bertentangan dengan ajaran agama, adat istiadat, norma dalam bergaul
dengan sesama khususnya dengan teman lawan jenis.
Novel Angkatan 20 - 30 an
Novel Angkatan 20 - 30 an
Sastra Indonesia secara umum
terbagi oleh beberapa periode, yaitu angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru,
angkatan 1945, angkatan 1950, angkatan 1966, dan angkatan 1970 sampai dengan
sekarang. Berikut ini beberapa karya sastra angkatan 20 - 30 an.
|
No.
|
Nama Pengarang
|
Hasil Karya
|
|
1.
|
Merari Siregar
|
Azab dan Sengsara (1920), Binasa kerna Gadis Priangan
(1931), Cinta dan Hawa N*fsu
|
|
2.
|
Marah Roesli
|
Siti Nurbaya (1922), La Hami (1924), Anak dan Kemenakan
(1956)
|
|
3.
|
Muhammad Yamin
|
Tanah Air (1922), Indonesia, Tumpah Darahku (1928), Kalau
Dewi Tara Sudah Berkata, Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
|
|
4.
|
Nur Sutan Iskandar
|
Apa Dayaku karena Aku Seorang
Perempuan (1923), Cinta yang Membawa Maut (1926), Salah Pilih (1928), Karena
Mentua (1932), Tuba Dibalas dengan Susu (1933), Hulubalang Raja (1934), Katak
Hendak Menjadi Lembu (1935)
|
|
5.
|
Tulis Sutan Sati
|
Tak Disangka (1923), Sengsara Membawa Nikmat (1928), Tak
Membalas Guna (1932), Memutuskan Pertalian (1932)
|
|
6.
|
Djamaludin Adinegoro
|
Darah Muda (1927), Asmara Jaya (1928)
|
|
7.
|
Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati
|
Pertemuan (1927)
|
|
8.
|
Abdul Muis
|
Salah Asuhan (1928), Pertemuan Djodoh (1933)
|
|
9.
|
Aman Datuk Madjoindo
|
Menebus Dosa (1932). Si Cebol Rindukan Bulan (1934),
Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)
|
Perbandingan Karakteristik
Karya-karya yang ada pada angkatan balai pustaka memang dibuat sedemikian rupa agar tidak menyinggung perpolitikan kaum kolonial. Karya-karya dari balai pustaka disortir secara ketat untuk mengurangi kemungkinan ada karya-karya yang berbau menentang pemerintahan kolonial. Berikut contoh perbandingan dua buah novel angkatan 20-30an
Karya-karya yang ada pada angkatan balai pustaka memang dibuat sedemikian rupa agar tidak menyinggung perpolitikan kaum kolonial. Karya-karya dari balai pustaka disortir secara ketat untuk mengurangi kemungkinan ada karya-karya yang berbau menentang pemerintahan kolonial. Berikut contoh perbandingan dua buah novel angkatan 20-30an
|
No.
|
Unsur yang
Dibandingkan
|
Novel Azab dan
Sengsara
|
Novel Siti Nurbaya
|
|
1.
|
Tema
|
Anak perjaka dijodohkan paksa
oleh orangtuanya karena orang tuanya tidak menyetujui gadis pilihan anaknya
yang berasal dari keluarga miskin.
|
Anak gadis yang harus menikah
dengan lelaki tua untuk menutup hutang orangtuanya kepada lelaki itu.
|
|
2.
|
Latar
|
Terjadi pada masyarakat
Minangkabau, daerah Siporok, Padang, dan Medan Sumatera Utara.
|
Terjadi pada masyarakat
Minangkabau, Padang, dan sebagian cerita di Jakarta.
|
|
3.
|
Alur Cerita
|
Diakhiri dengan kesengsaraan
tokoh utama Mariamin.
|
Diakhiri dengan kematian tokoh
utama Siti Nurbaya dan Syamsulbahri.
|
|
4.
|
Keterkaitan dengan kehidupan masa sekarang
|
Sebagian masyarakat memang
masih ada yang memilihkan jodoh untuk anaknya.
|
Sudah tak ditemukan orang tua
yang mengorbankan anaknya untuk mengembalikan utang.
|
Standar
Kompetensi : 16 Menulis naskah drama
Kopetensi Dasar : 16.1 Menulis naskah drama
berdasarkan cerpen yang sudah dibaca
Materi Pembelajaran
ü
Menulis naskah
drama berdasarkan cerpen yang sudah dibaca
Langkah-langkah Mengubah
Cerpen Menjadi Teks Drama
1. Baca naskah cerpen dengan saksama!
2. Hayati tema cerpen.
3. Tentukan tokoh dan pahami karakternya sebagai tokoh drama!
4. Tentukan tempat dan waktu peristiwa dalam cerpen sebagai latar drama!
5. Tentukan urutan kejadian/peristiwa yang terjadi dalam cerpen sebagai alur drama!
6. Bagi cerpen menjadi beberapa bagian penting yang melandasi cerita lalu ubah menjadi babak untuk memaparkan peristiwa.
7. Menyusun dialog berdasarkan konflik yang terjadi antartokoh.
8. Membuat deskripsi-deskripsi untuk menjelaskan latar, akting atau lighting.
9. Baca dan sempurnakan naskahmu!
Pemilihan Cerpen untuk Dijadikan Naskah Drama
- Pilih tema atau cerita yang menarik.
- Pilih cerita yang dapat diubah menjadi dialog
antartokoh.
- Pahami isi cerita /tema cerpen sebelum diubah
menjadi bentuk drama.
- Ciptakan bentuk-bentuk dialog dengan diksi
yang menarik.
Unsur Naskah Drama
1. Plot/Alur
2. Penokohan dan perwatakan
3. Dialog
4. Seting
5. Tema
6. Amanat
7. Petunjuk Teknis
1. Baca naskah cerpen dengan saksama!
2. Hayati tema cerpen.
3. Tentukan tokoh dan pahami karakternya sebagai tokoh drama!
4. Tentukan tempat dan waktu peristiwa dalam cerpen sebagai latar drama!
5. Tentukan urutan kejadian/peristiwa yang terjadi dalam cerpen sebagai alur drama!
6. Bagi cerpen menjadi beberapa bagian penting yang melandasi cerita lalu ubah menjadi babak untuk memaparkan peristiwa.
7. Menyusun dialog berdasarkan konflik yang terjadi antartokoh.
8. Membuat deskripsi-deskripsi untuk menjelaskan latar, akting atau lighting.
9. Baca dan sempurnakan naskahmu!
Pemilihan Cerpen untuk Dijadikan Naskah Drama
- Pilih tema atau cerita yang menarik.
- Pilih cerita yang dapat diubah menjadi dialog
antartokoh.
- Pahami isi cerita /tema cerpen sebelum diubah
menjadi bentuk drama.
- Ciptakan bentuk-bentuk dialog dengan diksi
yang menarik.
Unsur Naskah Drama
1. Plot/Alur
2. Penokohan dan perwatakan
3. Dialog
4. Seting
5. Tema
6. Amanat
7. Petunjuk Teknis
Standar
Kompetensi : 16 Menulis naskah drama
Kopetensi Dasar : 16.2. Menulis naskah drama
berdasarkan pristiwa nyata
Materi Pembelajaran
Naskah drama adalah satu cerita
tertulis untuk dipentaskan di panggung, layar, atau radio. Naskah drama sendiri
merupakan salah satu yang perlu dipersiapkan dalam sebuah pementasan drama.
Naskah drama ditulis menggunakan kalimat-kalimat
langsung yang lengkap dengan penjelasan mengenai sikap, gerakan, latar dan cara
pengungkapan kalimat yang harus dilakukan oleh para pelakunya.
Naskah drama juga dapat ditulis berdasarkan
peristiwa nyata. Walaupun berdasarkan peristiwa nyata naskah drama dapat
ditambahkan dengan kreativitas daya imajinatif sang penulis.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menulis
naskah drama aalah sebagai berikut:
1.
Mengembangkan inti cerita menjadi lebih menarik dengan
bentuk dialog
2.
Menciptakan tokoh-tokoh dengan karakter yang menarik
3.
Memilih diksi yang menarik dan tepat untuk membawakan
cerita
Cara menulis drama berdasarkan peristiwa nyata
adalah:
1.
Menentukan peristiwa yang menarik, yaitu peristiwa yang
memberikan kesan mendalan.
2.
Memilih dan menentukan tema
3.
Memilih judul dan membuat kata pembuka. Judul sebaiknya
tidak terlalu panjang dan menarik. Kata pembuka lebih bagus lagi jika bersifat
bombastis (berlebihtan) supaya pembaca tertarik mengikuti cerita selanjutnya.
4.
Membuat kerangka dengan memasukkan konflik
5.
Menentukan pelaku
6.
Menyusun jalinan cerita yang mengandung perkenalan
tokoh dengan konflik dan penyelesaiannya.
7.
Menyusun kramagung dan wawancang. Kramagung adalah
perintah kepada pelaku untuk melakukan sesuatu yang ditulis sebagai petunjuk
dalam bermain drama. Wawancang ditulis lepas dan mengandung semua perasaan
pelakunya.
Penulisan drama tentu berbeda dengan naskah cerita
lainnya. Adapun penjelasan tentang naskah drama adalah sebagai berikut:
1.
Naskah drama disajikan dalam bentuk pementasan adegan.
Babak terdiri atas beberapa adegan. Pergantian pelaku merupakan tanda
pergantian adegan dalam satu peristiwa.
2.
Penulisan drama dapat diawali dengan sebuah prolog
sebagai pengantar dan epilog sebagai penjelasan akhir cerita.
3.
Dialog ditulis dengan diawali tokoh yang berbicara atau
berlaku. Tanda titik dua sebagai pemisah antara pelakud engan kalimat yang
diucapkan. Terdapat beberapa naskah drama yang telah diadaptasikan ditulis
dalam bentuk paragraf.
4.
Petunjuk lakuan atau tindakan ditulis dalam dialog
tokoh yang berlaku dengan diberikan tanda kurung.
5.
Penulisan keterangan dan petunjuk lakuan dalam
pergantian babak atau perpindahan adegan dapat ditulis seperti paragraf di
akhir dialot antar tokoh.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar