Minggu, 12 Juni 2016

BUKU AJAR BAHASA INDONESIA UNTUK SMP KELAS IX SEMESTER 2


BUKU AJAR

Sekolah                       : SMP N 1 Petarukan
Mata Pelajaran          : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester          : IX/2


Standar Kompetensi
: 9.  Memahami isi pidato/khotbah/ceramah
Kompetensi Dasar
: 9.1   Menyimpulkan pesan pidato/khotbah/ceramah yang didengar

Materi Pembelajaran
ü  Penyimpulan terhadap pidato/khotbah/ceramah yang didengarkan
Pidato adalah pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak atau publik dalam sistuasi dan tujuan tertentu. Ada berbagai contoh pidato, misalnya pidato Kepala Dinas P dan K, pidato kenegaraan, pidato politik, ceramah ilmiah, ceramah keagamaan, dan lain sebagainya. Karena pidato dan ceramah sifatnya sekali ucap, maka untuk dapat memahami isi pidato tersebut diperlukan konsentrasi yang sungguh-sungguh.
Kamus : pidato n 1 pengungkapan pikiran dl bentuk kata-kata yg ditujukan kpd orang banyak; 2 teks atau naskah yg disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak: — politisisangat memukau simpatisannya; berpidato mengucapkan (membacakan) pidato;
Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam sebuah pidato adalah:
1. Topik pidato,
2. Tujuan pidato,
3. Permasalahan yang diuraikan dalam pidato,
4. Sebab-sebab timbulnya permasalahan, dan
5. Solusi yang diberikan pembicara.
Seseorang yang berbicara tentu mempunyai tujuan tertentu. Berikut ini beberapa tujuan penyampaian pidato.
a.    Memotivasi
Pidato dikatakan memotivasi jika pembicara berusaha memberikan semangat, membangkitkan kegairahan atau menekan perasaan yang kurang baik, serta menunjukkan rasa hormat dan pengabdian.
b.   Memersuasi
Pidato dikatakan memersuasi jika pembicara berusaha memengaruhi keyakinan atau sikap mental para pendengar.
c.    Melakukan tindakan
Pidato dikatakan mempunyai tujuan melakukan tindakan jika pembicara dalam berpidato menghendaki pendengar untuk bertindak sesuatu.
d.   Menginformasikan
Pidato dikatakan menginformasikan jika pembicara ingin memberitahukan atau menyampaikan sesuatu kepada pendengar agar mereka bertambah pengetahuannya.
e.    Menghibur
Pidato dikatakan menghibur jika pembicara ingin menggembirakan  orang yang mendengar pembicaraannya atau menimbulkan suasana gembira pada suatu pertemuan.

Standar Kompetensi : 9 Memahami isi pidato/khotbah/ceramah
Kopetensi Dasar        : 9.2Memberi komentar tentang isi pidato/ceramah/khotbah.

Materi Pembelajaran
ü  Cara memberi komentar terhadap pidato / ceramah / khotbah dan implementasinya  
Hal-hal yang perlu diperhatikan agar bisa  memberi komentar yang baik:
a.       Mendengarkan dengan penuh perhatian
b.      Menilai dengan objektif
c.       Memberikan komentar dengan bahasa yang menarik dan komunikatif
d.      Mencatat hal-hal penting tentang isi ceramah
      Materi ceramah memang biasanya berisi hal-hal penting. Namun, dari yang penting itu ada yang bisa dicatat sebagai hal inti yang merupakan pokok-pokok isi ceramah.
(buku paket hal.91)

Standar Kompetensi    : 10. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam pidato
dan diskusi
Kompetensi Dasar        : 10.1 Berpidato/berceramah/berkhotbah dengan intonasi yang tepat
dan artikulasi serta volume suara yang jelas.

Materi Pembelajaran
Pidato adalah penyampaian uraian secara lisan tentang sesuatu hal di depan umum. Teks pidato yang baik memenuhi beberapa aspek berikut:
·         Pidato ditulis dengan topik yang aktual/sesuai dengan tema.
·         Pidato ditulis dengan topik yang kontekstual.
·         Topik pidato dibahas dengan lengkap dan jelas.
·         Pidato mengemukakan masalah dan solusi.
·         Pidato menggunakan humor.
·         Pidato ditulis dengan menggunakan bahasa yang formal.
·         Pidato ditulis dengan mempertimbangkan pendengar.
·         Pidato tidak boleh lari dari maksud dan tujuan pidato (agar pendengar melakukan sesuatu, mempengaruhi pendengar, menghibur, memotivasi atau menyampaikan informasi).
Kerangkan teks pidato pada umumnya terdiri hal-hal berikut.
·         Pembukaan (pendahuluan), meliputi: salam pembuka, ungkapan syukur, tujuan pidato, sapaan.
·         Isi, meliputi: inti masalah, ilustrasi atau contoh dan penjelasan.
·         Penutup, meliputi: simpulan,saran, himbauan, ucapan terima kasih,  ucapan permohonan maaf, harapan dan salam penutup.
Cara melatih memahami dan menyimpulkan isi sebuah khotbah:
1). Mendengarkan khotbah dengan khusuk dengan tidak menyibukkan hati kepada masalah lain yang tidak ada hubungannya dengan isi khotbah.
2). Menjaga konsentrasi dengan memusatkan perhatian dan pendengaran ke arah khotbah.
3). Mempertajam daya ingat dengan menyimpan setiap pesan khotbah.
4). Mengendapkan dan menyimpulkan isi khotbah dengan cara merenungkan, dan menjalani nasihat-nasihat khotbah.

Cara berpidato / ceramah / khotbah  dan implementasinya
Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika tampil berpidato sebagai berikut.
a.  Persiapan yang memadai
lakukan persiapan yang meliputi: persiapan diri, kesehatan jasmani dan rohani, persiapan materi yang akan disampaikan, dan informasi tentang calon pendengar.
b.  Kecakapan berbicara
Lakukan pelatihan yang meliputi: latihan vokal, latihan bahasa, dan latihan olah gerak serta ekspresi.
c. Keterampilan pendukung
Lakukan upaya memiliki keterampilan pendukung antara lain keahlian mengendalikan emosi, konsentrasi, berpikir spontan, menum,buhkan kharisma, dan memahami situasi.

Standar Kompetensi : 10.  Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informnasi dalam pidato dan diskusi
Kompetensi Dasar     : 10.2 Menerapkan prinsip-prinsip diskusi

Materi  Pembelajaran
ü  Penerpan prinsip-prinsip diskusi
Pengertian diskusi adalah bentuk tukar ide/pikiran dalam musyawarah yang direncanakan atau dipersiapkan antara dua orang atau lebih mengenai topik tertentu dengan dipandu seorang pemimpin diskusi.
Diskusi juga biasa disebut dengan percakapan terpimpin. Tujuan diskusi adalah untuk mencari pemecahan masalah, menampung pendapat, pandangan dan saran dari peserta diskusi.
Adapun beberapa faktor yang menentukan keberhasilan dalam diskusi adalah sebagai berikut:
1. Moderator atau Pempimpin Diskusi
Tugas seorang moderator adalah:
§  Membuka diskusi
§  Menjelaskan latar belakang masalah, maksud pembahasan, tema dan tujuan diskusi
§  Mengarahkan jalannya diskusi sehingga proses tanya jawab dapat berlangsung dengan baik.
§  Membuat rangkuman dan menyimpulkan diskusi
§  Menutup diskusi
2. Notulis
Notulis adalah orang yang membuat notulen atau catatan singkat mengenai jalannya diskusi serta hal yang dibicarakan dan diputuskan.
Notulisbertugas mencatat hal-hal penting selama jalannya diskusi seperti pendapat, usulan dan keputusan hasil diskusi.
3. Penyaji atau Narasumber
Adapun tugas narasumber adalah sebagai berikut:
§  Menyiapkan bahan atau materi diskusi
§  Menyampaikan materi kepada peserta diskusi
§  Menjawab pertanyaan dan tanggapan dari peserta diskusi
4. Peserta Diskusi
Peserta diskusi dapat menyampaikan pendapat dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut
§  Menyampaikan pendapat dengan jelas dan lancar
§  Memberikan alasan, fakta atau contoh yang logis sebagai penunjang
§  Menggunakan bahasa yang sopan
Pada diskusi, seringkali terdapat perbedaan pendapat dalam pemecahan suatu masalah. Penolakan atau penyanggahan pendapat orang lain harus disertai alasan logis yang menguatkan pendapat atau penyanggahan tersebut.
Ada beberapa etika yang harus diperhatikan ketika melakukan penolakan atau penyanggahan, diantaranya adalah sebagai berikut:
§  Penyampaian sanggahan atau penolakan sesuai dengan topik masalah dan disertai pernyataan yang masuk akal.
§  Menggunakan bahasa yang sopan dan halus
§  Penyampaian sanggahan harus dilakukan disaat yang tepat, tidak boleh memotong pembicaraan orang lain.
§  Menghormati pendapat orang lain, meskipun berbeda dengan pendapat pribadi.


Standar Kompetensi : Membaca
11. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif, dan membaca cepat.
Kompetensi Dasar    : 11.1. Menemukan gagasan dari beberapa artikel dan buku melalui kegiatan membaca ekstensif.

Materi Pembelajaran
ü  Menemukan Gagasan dari Beberapa Artikel dan Buku Melalui Kegiatan Membaca Ekstensif

Menemukan Gagasan

Bacalah secara sekilas wacana berikut, kemudian buatlah beberapa catatan penting dari wacana tersebut secara berkelompok untuk menentukan gagasannya!

Cara Membaca Ekstensif (Sekilas)

Pertama, bacalah dengan cepat bacaan yang berjudul Simulasi Pemilu yang Menguatkan Keyakinan berikut!

Caranya, ikuti langkah berikut!
a. Tempatkan pandangan mata agak masuk ke dalam pada setiap awal baris! Bukan tepat di huruf pertama.
b. Gerakkan mata ke samping kanan dengan cepat, meloncat-loncat dalam dua sampai tiga kata! c. Jangan membaca kata demi kata!
d. Temukan kata-kata kuncinya! Pahami maksud kalimatnya! Loncatilah bagian-bagian yang tak penting!
e. Tentukanlah gagasannya!

Contoh Artikel membaca ekstensif


Simulasi Pemilu yang Menguatkan Keyakinan


Tiada jalan mundur bagi pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung. Yang ada, maju terus karena hajat demokrasi itu bisa dilaksanakan di Indonesia.

Optimisme itulah yang semakin bersemi ketika simulasi mengenai pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung sukses dilaksanakan kemarin. Simulasi itu diselenggarakan Centre for Electoral Reform (Cetro) dan melibatkan lebih dari 1000 pelajar kelas satu dari tujuh SMU di Jakarta.


Simulasi itu memang sengaja melibatkan pelajar SMU kelas satu. Merekalah yang pada 2004 nanti untuk pertama kali memiliki hak suara.


Jadi, sekali berenang dua pulau terlampaui.Yaitu, selain melakukan simulasi, juga memperkenalkan sistem pemilihan yang baru kepada pemilih pemula.


Dalam simulasi itu, setiap kandidat presiden memaparkan programnya lengkap dengan janji-janjinya bila terpilih. Lalu, diadakan debat publik menampilkan sesama kandidat. Kepada rakyat yang berhak memilih diberi pula kesempatan mengajukan pertanyaan langsung kepada sang calon presiden .


Akhirnya, tibalah saatnya mencoblos. Kesimpulan, pemilihan presiden dan wakil peresiden secara langsung dapat dilaksanakan pada 2004. Sebuah kesimpulan yang penting, bahkan sangat penting, di tengah keraguan yang disembunyikan bahwa pemilihan presiden secara langsung belum waktunya dilaksanakan di Indonesia. 


Alasannya pun bermacam-macam, dari yang sangat praktis hingga yang terdengar mulia, tetapi merendahkan rakyat. Alasan sangat praktis, misalnya, tidak cukup waktu persiapan, terlebih karena undang-undangnya pun hingga sekarang belum beres. 


Alasan mulia, tetapi merendahkan, contohnya, bahwa rakyat negeri ini belum siap menghadapi pemilihan presiden secara langsung. Bahkan dibuat-buat agar seram, bahwa pemilihan presiden secara langsung potensial menimbulkan konflik di level masyarakat, di tingkat akar rumput.


Apa pun alasannya, ada kecenderungan diam-diam di kalangan elite partai politik untuk menunda pelaksanaan pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung. Caranya, sengaja atau tidak sengaja memperlambat penyelesaian undang-undang politik yang diperlukan. Kalangan DPR tampak berleha-leha, hidup tanpa produktifitas.


Memilih presiden dan wakil presiden secara langsung memang bukan perkara yang menyenangkan bagi elite partai. Sebab, tidak ada lagi ruang bagi dagang sapi, untuk bagi-bagi kursi. Juga, tidak ada lagi peluang untuk menjadi king maker yang menentukan bukan mereka, melainkan rakyat yang memiliki hak suara.


Maka, dari sudut apa pun pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung jelas tidak menguntungkan, terutama bagi partai yang sedang berkuasa. Dari sudut money politicpun semakin mahal dan semakin sulit untuk membeli jutaan suara di masyarakat dibanding hanya membeli ratusan suara di MPR. Semakin gampang untuk dibongkar, sebab kian banyak mulut yang disuap semakin banyak pula yang bocor.


Simulasi yang dilakukan Cetro bukanlah simulasi yang sempurna. Ia juga bukan replika dari kenyataan yang sesungguhnya. Tetapi, dari sudut moral politik, simulasi itu berhasil menguatkan kembali keyakinan bahwa pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung merupakan obat yang sehat bagi lahirnya pemimpin baru bangsa ini.


Dikutip dari Media Indonesia,
18 November 2002


Mengutip Pernyataan dari Artikel atau Buku

Mengutip pernyataan dari artikel atau buku merupakan salah satu indikator penting dalam karya ilmiah. Artikel atau buku itu disebut sebagai rujukan kepustakaan. Rujukan kepustakaan dapat dipakai sebagai satu di antara indikator untuk menunjukkan seberapa jauh wawasan penulis (Kisyani-Laksono, 1992).

Rujukan kepustakaan pada hakikatnya berfungsi memudahkan pembaca melihat sumber dokumen yang digunakan penulis. Yang perlu dikenali penulis dalam membuat rujukan kepustakaan antara lain bahwa setiap sumber rujukan sekurang-kurangnya memiliki unsur-unsur kepustakaan: nama pengarang, judul tulisan, tempat dan tahun terbit, nama penerbit. Dalam isi, rujukan kepustakaan berwujud catatan pustaka, adapun di bagian akhir berwujud daftar pustaka.

Catatan pustaka yang ada dalam isi suatu karya ilmiah harus terdapat dalam daftar pustaka, demikian juga sebaliknya.

Catatan pustaka, seperti halnya daftar pustaka, sebaiknya mencantumkan rujukan mutakhir yang tecermin dari angka tahunnya. Walaupun demikian, rujukan lama dapat juga digunakan dengan pertimbangan tertentu. Bahkan, beberapa tulisan sejarah, misalnya, mewajibkan adanya bahan rujukan bertahun lama.

Contoh:

 Harsojo (1998:23) mengatakan bahwa ....
”Nilai surat sebagai sarana komunikasi terletak pada mudah tidaknya surat itu dipahami pembaca”
(Kisyani-Laksono, l998: 33).

Standar Kompetensi    : 11. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif dan membaca cepat
Kopetensi Dasar          : 11.2 Mengubah sajian grafik, tabel, atau bagan menjadi uraian melalui kegiatan membaca intensif

Materi Pembelajaran
Pengungkapan pendapat dalam tulisan sering diperlukan dukungan fakta atau data yang dikemas dalam bentuk tabel, grafik, bagan, atau peta. Penyajian tabel, grafik, bagan, atau peta dalam sebuah tulisan sangat membantu pembaca menggali informasi yang jika disajikan dalam kalimat-kalimat justru sulit dipahami.

Biasakanlah untuk menggali informasi dari tabel, grafik, bagan, dan peta. Dalam bagian ini kamu akan dilatih membaca tabel, grafik, bagan, dan peta.

1. Berlatih Memperluas Jangkauan Mata

Untuk menemukan secara cepat informasi yang diperlukan, kita harus memperlebar daya jangkau pandangan mata. Pembaca yang baik bukan melihat kata demi kata, melainkan melihat dua kata atau lebih. Berlatihlah memperluas jangkauan pandangan mata!

Tempatkan pandangan mata kalian pada garis yang ada di tengah deretan kata berikut. Mulailah dari kata pertama, kemudian perluaslah pandangan mata ke deretan kata di bawahnya.

Catatan
Ketika sampai pada kata ‘sendiri Hatta’, berhentilah! Coba tempatkan titik pandangan mata pada huruf i, apakah kata di ujung kiri (huruf s) dan ujung kanan (huruf a) masih terbaca? Jika, ya, seluas itulah jangkauan matamu. Berlatihlah berulang-ulang!

2. Mengidentifikasi Isi Grafik, Tabel, atau Bagan

Data yang disampaikan dalam bentuk tabel, bagan, dan grafik umumnya memang lebih menarik perhatian pembaca. Data mengenai siswa, jumlah lulusan, kependudukan dan sejenisnya akan lebih mudah dilihat bila dinyatakan dalam angka-angka. Angkaangka yang pasti dan rinci tentang suatu peristiwa dapat diperoleh dari tabel statistik.

Kita dapat memperoleh informasi dari tabel semacam itu. Dari tabel, bagan, dan grafik kita mengetahui secara singkat data mengenai sesuatu.

Dari judul tabel saja kita dapat mengetahui apa, di mana, dan bagaimana perkembangan sesuatu. Ikutilah langkah-langkah standar dalam membaca tabel, grafik, bagan, dan peta berikut!

(1) Pertama, bacalah judulnya. Ini sebuah keharusan. Resapkanlah isi judul tabel, grafik, bagan, dan peta yang kalian hadapi, karena judul memberikan ringkasan yang padat tentang informasi yang akan disampaikan.

(2) Bacalah keterangan yang ada di atas, di bawah, atau di sisinya. Keterangan itu merupakan kunci penjelasan tentang data yang akan disampaikan. Keterangan itu, misalnya dalam bentuk urutan tahun, persentase, atau angka-angka.

(3) Ajukan pertanyaan tentang tujuan tabel, grafik, bagan, dan peta itu. Caranya mudah. Kalian cukup mengubah judulnya menjadi pertanyaan, misalnya di mana, seberapa banyak, berapa kemajuannya, kelompok mana, dan seterusnya. Jawabannya diharapkan ada dalam tabel, grafik, bagan, atau peta tersebut.

(4) Langkah terakhir, bacalah tabel, grafik, bagan, atau peta itu. Ketika membaca, selalu ingat tujuan kalian membacanya, dan informasi apa yang akan kalian perlukan.

Setelah kamu memahami langkah-langkah membaca tabel, bagan, grafik, atau peta tersebut, sekarang bacalah tabel berikut dan jawablah pertanyaan yang menyertainya!

Ikutilah empat langkah seperti yang diuraikan pada awal pembahasaan ini : (1) baca judulnya, (2) baca informasi yang ada pada kolom-kolom di atas, samping, dan bawah, (3) ajukan pertanyaan tentang tabel itu, dan (4) dapatkan jawabannya dalam tabel tersebut.

Cara Mengubah Sajian Grafik, Tabel, atau Bagan Menjadi Uraian melaui Kegiatan Membaca Intensif

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan singkat!

1) Tabel tersebut berisi apa?

2) Kita tampaknya masih kekurangan guru di berbagai bidang studi! Tunjukkan dalam tabel itu!

3) Tunjukkan tiga bidang studi dengan angka terbesar yang membutuhkan lebih banyak guru!

4) Tunjukkan tiga bidang studi dengan angka terbesar yang membutuhkan guru lebih sedikit!

5) Berapa kebutuhan guru Geografi pada tahun 2002?

Orang sibuk lebih suka mempelajari sesuatu dari grafik statistik. Akan tetapi, tidak semua pendapat disajikan dalam bentuk grafik.

Grafik memungkinkan penyampaian ide yang kompleks secara mudah, dapat memberi gambaran suatu data efektif kepada pembaca. Ciri utama grafik adalah sederhana tapi jelas.

Lakukan kegiatan berikut!

(1) Berkelompoklah lima-lima! Carilah grafik dan bagan di surat kabar!

(2) Pelajarilah dengan saksama bagan dan grafik yang kamu temukan itu!

(3) Diskusikanlah isinya!


3. Memaparkan Isi Grafik, Tabel, atau Bagan ke dalam Beberapa Kalimat

Setelah kamu mendiskusikan hal-hal tersebut, paparkanlah dengan bahasamu sendiri isi grafik atau bagan yang sudah kamu diskusikan, kemudian kemukakan di depan kelas!

Berilah kesempatan temanmu untuk bertanya, menanggapi, atau memberi saran mengenai kelengkapan informasi yang kamu kemukakan!

Standar Kompetensi    : 11  Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif, dan membaca cepat.
Kopetensi Dasar          : 11.3 Menyimpulkan gagasan utama suatu teks dengan membaca cepat 300 kata permenit

Materi Pembelajaran

ü  Menyimpulkan Gagasan Utama Suatu Teks

Menyimpulkan gagasan utama suatu teks dengan membaca cepat ± 300 kata per menit
Definisi Gagasan Utama
Gagasan utama adalah topik yang diperbincangkan dalam teks. Kita bisa mengatakan bahwa gagasan utama adalah permasalahan yang ingin disampaikan penulis. Dia adalah ide dan tujuan penulis dalam membuat paragraf. Setiap satu paragraf hanya akan memiliki satu gagasan utama yang dapat terletak di salah satu kalimat.
Beberapa Hal terkait Gagasan Utama
Dengan demikian, berdasarkan hal tersebut, ada hal yang perlu kita catat mengenai kesalahpahaman siswa dalam menentukan letak gagasan utama. Tidak sedikit siswa yang menganggap bahwa gagasan utama hanya muncul di awal dan/atau akhir paragraf. Padahal, gagasan utama dapat muncul di bagian mana pun sebuah paragraf, apakah di awal, tengah, akhir, campuran, atau di seluruh kalimat. Sebagai contoh, perhatikanlah dan baca paragraf-paragraf berikut!
Contoh 1
Pada contoh di atas, permasalahan yang disampaikan penulis adalah kekisruhan antara KPK dan Polri yang membuat geram masyarakat (kalimat 1). Hal ini dibuktikan dan diperkuat oleh alasan yang muncul pada kalimat 3, yaitu terluntanya pemberantasan korupsi. Dengan demikian, paragraf tersebut adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak di awal paragraf. Paragraf ini disebut dengan paragraf deduktif.
Contoh 2
Pada contoh di atas, permasalahan yang disampaikan dalam paragraf adalah mengenaitubuh tetap memerlukan kolesterol dalam batas normal. Informasi ini terdapat pada kalimat kedua dan dibuktikan oleh penggunaan kata hubung akan tetapi yang menyangkal informasi pada kalimat 1. Paragraf ini memberikan kita contoh letak gagasan utama yang terletak di kalimat 2 (tengah paragraf). Walaupun gagasan utama berada di tengah paragraf, jenis paragraf ini tetap dinamakan sebagai paragraf deduktif (sesuai dengan pernyataan Gorys keraf dalam buku Komposisi).

 

Poin Penting

Gagasan utama atau topik paragraf dapat muncul di setiap bagian kalimat, yaitu sebagai berikut.
  1. Di awal paragraf (deduktif),
  2. di tengah paragraf (deduktif),
  3. di akhir paragraf (induktif),
  4. campuran (deduktif-induktif), dan
  5. dI seluruh bagian paragraf (naratif dan deskriptif).


Standar Kompetensi   : 12  Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karya ilmiah sederhana, teks pidato, surat pembaca.
Kopetensi Dasar         : 12.1 Menulis karya tulis sederhana dengan menggunakan berbagai sumber.

Materi Pembelajaran
ü  Menulis karya tulis ilmiah sangat penting bagi kita untuk menguasai karya tulis yang kita tulis.
Sebuah karya tulis ilmiah sangat bermanfaat jika hal yang dibahasnya sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, sebelum kita menulisnya, kamu harus terlebih dahulu harus melakukan suatu penelitian. Penelitian dalam bentuk kepustakaan (membaca sejumlah buku) atau secara langsung melakukan percobaan. Sebelum kita memulai belajar menulis karya tulis ilmiah secara sederhana, ikuti terlebih dahulu langkah-langkah awal berikut ini:
A. Memahami dan menanggapi isi bacaan.
Dimaksudkan agar kita membaca terlebih dahulu pengalaman dari seorang temanmu yang berprestasi dalam penulisan karya tulis ilmiah. Bertanya dan memahami akan semua penjelasan dari temanmu serta memulai mengerjakan pelatihan karya tulis tulismu yang disertai oleh temanmu yang akan membimbing pelatihan tersebut.
B. Menulis rangkuman bacaan.
Pada saat membuat rangkuman, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membaca dan mengidentifikasi pokok-pokok pikiran yang disampaikan penulis dalam teks bacaan. Hal tersebut akan membatumu merumuskan isi rangkuman yang akan ditulis. Kedua, tulislah kerangka karangan  dengan pola pikir kamu sendiri berdasarkan pokok pikiran yang telah kamu identifikasikan. Ketiga, tuliskan rangkuman berdasarkan kerangka yang kamu buat.
C. Mengumpulkan sumber bacaan dan menetapkan topik karya tulis ilmiah sederhana.
Salah satu jenis karya tulis ilmiah yaitu makalah. Makalah ditulis dengan tujuan sebagai bahan pembahasan dalam suatu forum ilmiah, misalnya seminar. Langkah awal dalam menulis makalah yaitu menentukan topik makalah. Topik yang baik adalah topik yang menarik karena actual, berguna, dan didukung oleh sumber bacaan yang cukup. Topik dapat sekaligus dijadikan sebuah judul makalah. Langkah menentukan topik makalah dapat dilihat pada contoh berikut.
Mengumpulkan sumber bacaan ( Berdasarkan artikel sebelumnya )
Menetapkan topik     : Menjaga dan memelihara lingkungan
Pembatasan topik      : Cara menjaga dan memelihara lingkungan
Topik makalah           : Mewujudkan Lingkungan Hijau
D. Menulis kerangka karya tulis ilmiah sederhana dalam bentuk makalah.
Makalah merupakan salah satu bentuk karya tulis ilmiah sederhana. Makalah ditulis dengan tujuan untuk membahas suatu topik. Makalah dikembangkan secara sistematis dengan menuangkan gagasan secara runtut. Untuk itu, penulisan makalah perlu dipersiapkan dengan menyusun kerangka makalah. Kerangka makalah (outline) dibuat dengan tujuan menentukan pola atau gasir besar isi makalah.
Isi makalah terdiri atas tiga bagian, yaitu pendahuluan, pembahasan, dan penutup. Dalam bagian pendahuluan, penulis menjelaskan latar belakang pemilihan topik atau judul, masalah yang dibahas, dan tujuan penulisan makalah. Pada penulisan makalah pendek, penulis cukup menjelaskan masalah atau tujuannya. Bagian pendahuluan ditulis dalam suatu kesatuan
( tidak perlu dirinci dengan penomoran ).
Dalam bagian pembahasan, penulis membahas secara berurutan masalah atau tujuan penulisan. Pembahasan setiap masalah atau tujuan dapat dirinci dengan penomoran. Selanjutnya, dalam bagian penutup, penulis membuat simpulan atas pembahasan yang telah dilakukannya. Sebagi pertanggungjawaban atas isi makalahnya, penulis menuliskan daftar buku atau daftar pustaka yang digunakan sebagai bahan rujukan untuk membahas masalah.
E. Menulis karya tulis ilmiah sederhana dalam bentuk makalah.
Selanjutnya, kita akan menulis karya tulis ilmiah sederhana berdasarkan kerangka yang telah kalian tulis. Tulis atau ketik dengan rapi sebelum kalian gunakan untuk mengerjakan karya tulis ilmiah sederhana tersebut. Langkah-langkah yang sudah dipahami dan mulai untuk mempraktekkannya.
F. Menuliskan rujukan atau sumber pustaka.
Harap diperhatikan untuk pencantuman buku rujukan atau umber pustaka sangat penting untuk kamu lakukan. Berikut cara penulisan buku rujukan atau daftar pustaka:
1. Rujukan atau sumber berupa artikel dari majalah yang mencantumkan nama pengarang,
Zulfikar, Dedy.”Batik Pesisiran Jawa Timur”, Warta Budaya (03 Januari 2005), hlm.3.
2. Rujukan atau sumber berupa orang atau majalh tanpa nama pengarang.
Contoh:
“Modifikasi Motif Batik Pesisiran untuk Busana Pesta”, Warta Budaya. (03 Januari 2005),hlm.13.
3. Rujukan atau suber berdasarkan buku. Contoh:
Akhadiah, Sabarti. Maidar 6. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan. 1982.
Pembinaan Kemampuan Menulis Bhasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga.
G. Menilai dan merevisi makalah.
Setelah kita menyelesaikan makalah, tukarkanlah makalah kelompokmu dengan kelompok lain. Lakukanlah penilaian dan koreksian atau masukan atas makalah yang telah disusun oleh kelompok lain. Ini dimaksudkan sejauh mana tingkat kepercayaan diri kita dengan hasil yang kita capai dengan maksimal dan serta membiasakan diri untuk selalu berinovasi, berkreasi, dan kreatif untuk menindaklanjuti dari karya tulis ilmiah sederhana.

Standar Kompetensi
: 12.     Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentu karya ilmiah sederhana, teks pidato, surat pembaca.
Kompetensi Dasar
: 12.2   Menulis teks pidato/ceramah/khotbah dengan sistematika dan bahasa yang efektif.

Materi Pembelajaran
Berpidato merupakan sebuah skil yang tidak semua orang bisa. seseorang untuk bisa berpidato diperlukan latihan yang berulang. Pidato merupakan bagian dari Orasi yang berarti sebuah pidato formal, atau komunikasi oral formal yang disampaikan kepada khalayak ramai. Salah satu contoh Orator ( orang yang berorasi ) adalah bapak Ir. Soekarno yang kemampuan berorasinya diakui dunia. Nah, kali ini saya akan membahas mengenai langkah langkah dalam menulis tekspidato/ceramah/khotbah. Ini dia...

1. Tema dan Kerangka Pidato
Bagi seorang Pemula, menulis tekspidato/ceramah/khotbah terlebih dahulu merupakan langkah yang baik supaya penyampaiannya baik dan tidak ada kesalahan. Ada langkah-langkah yang harus diperhatikan sebelum menulis teks pidato/ceramah/khotbah, yaitu :
a. Menentuka tema/pokok masalah
b. Mengetahui latar belakang pendengar (usia, pendidikan, julah pendengar)
c. Mencari data/sumber bacaan yang mendukung teks pidato/ceramah/khotbah yang akan disampaikan; dan
d.Membuat kerangka teks pidato/ceramah/khotbah

Perhatikan sistematika penulisan teks pidato/ceramah/khotbah berikut!
   Setelah memahami langkah-langkah dan sistematika penulisan, perlu diperhatikan juga penyajian isi dan bahasa dalam tekas pidato/ceramah/khotbah tersebut, diantaranya :
a. Isi pidato harus sesuai dengan tema acara kegiatan,
b. informasi yang disampaikan sesuai dengan kebenaran (tidak mengada-ada/mereka-reka),
c. Menggunakan bahasa yang efektif
d. Pilihan kata dalam teks tepat dan jelas, dan
e. Mengunakan bahasa ungkapan-ungkapan yang  sesuai dengan isi teks.

2. Mengembangkan dan menyunting Pidato
    Pengembangan kerangka dilakukan dengan menguraikan pokok-pokok masalah sesuai dengan kerangka karangan yang telah dibuat dalam pargraf-paragraf. Untuk itu, perlu banyak mendengarkan pidato atau membaca naskah pidato sehingga memahami pola-pola kalimatnya.
     Sebelum menyusun teks pidato, harus dikumpulkan bahan terlebih dahulu. Bahan pidato tersebut dapat dicari di buku, majalah, koran, internet, atau media lainnya. Berdasarkan bahan-bahan itulah, teks pidato disusun.

Standar Kompetensi    : 12 Mengungkapkan pikiran, perasaan dan informasi dalam bentuk karya ilimah sederhana, teks pidato, surat pembaca.
Kopetensi Dasar           : 12.3 Menulis surat pembaca tentang lingkungan sekolah.

Materi Pembelajaran
Penulisan surat pembaca adalah surat yang ditulis oleh pembaca yang dimuat dalam surat kabar/koran, majalah yang berisi tanggapan, saran, keluhan, ajakan, imbauan, ucapan terima kasih,  dan lain-lain. Surat pembaca merupakan surat terbuka yang isinya dapat dibaca oleh siapa saja serta dapat ditujukan kepada lembaga, pemerintah, perusahaan, kantor, perorangan, kelompok, atau organisasi.
Rubrik surat pembaca, sesuai namanya,  adalah ruangan dalam surat kabar atau majalah yang memuat surat-surat yang datang dari pembaca,  ditunjukan kepada media massa cetak yang bersangkutan, instansi pemerintah, lembaga swasta,  maupun kelompok dalam masyarakat atau individu tertentu dengan kriteria masalah yang dikemukakan bersifat umum.
Rubrik surat pembaca memiliki kekuatan tersendiri dalam membentuk opini khalayak. Karena mampu mempengaruhi opini khalayak, banyak pembaca yang memanfaatkan surat pembaca untuk menyampaikan keluhan, kritik atau tanggapan serta protes atas ketidak puasan ataupun informasi lain yang biasanya berupa permasalahan dari jeleknya pelayanan publik suatu lembaga. Selain itu, surat pembaca dapat juga berisi rasa ketidakpuasan konsumen, atau masyarakat atas pelayanan dan pernyataan-pernyataan yang bersifat emosional seperti keluhan, kritikan, atau pujian.
Surat pembaca bermotif keluhan diartikan sebagai surat pembaca yang cenderung mengemukakan kesulitan atau perasaan susah yang dialami penulis sehubungan dengan adanya ketidaklancaran pelayanan. Surat pembaca bermotif kritikadalah surat pembaca yang berisi atau mengemukakan kesalahan dan kejanggalan yang dilakukan oleh suatu instansi. Surat pembaca bermotif saran adalah surat pembaca yang berisi pernyataan atau pikiran yang disampaikan agar dipertimbangkan,  dan surat pembaca yang bermotif pujian ialah pernyataan yang bersifat penghargaan,  rasa terima kasih atas pelayanan yang telah dilakukan suatu organisasi atau instansi, sedangkan surat pembaca yang bermotif informasi biasanya semata-mata berisi pemberitahuan tentang sebuah keadaan. Kemudian yang terakhir surat pembaca berisitanggapan atau komentar terhadap suatu kejadian atau perbuatan yang dilakukan oleh para pejabat publik.
 Masalah yang dikemukakan dalam surat pembaca tidak dapat dinilai sebagai masalah yang tidak serius. Seluruh permasalahan merupakan realitas dalam masyarakat, hanya teknis penyampaiannya disampaikan secara ringan. Kumpulan surat-surat pembaca dapat dijadikan sebagai sumber informasi tentang berbagai segi kehidupan masyarakat. Surat pembaca sering berisi tentang suatu hal yang dapat merugikan nama baik orang atau organisasi yang terkena atau menolak suatu kebijaksanaan, berisi pernyataan-pernyataan sanggahan terhadap permasalahan yang tidak benar serta mendukung terhadap sesuatu hal dan ada juga yang isinya hanya mengungkapkan pendapat tanpa diikuti oleh perasaaan mendukung atau menolak sesuatu. Contoh surat pembaca berupa keluhan adalah seperti yang ditulis oleh Prita Mulyasari melalui internet yang mengakibatkan kasusnya diangkat ke pengadilan. Kelihatannya sederhana,  namun hal tersebut sangat fatal dan berdampak bagi perseorangan maupun publik yang ingin menuliskan keluhan surat pembaca melalui jalur media cetak maupun internet.
http://sekapursirihbasasin.blogspot.com/2011/11/jurnal-struktur-argumentasi-surat.html

Rubrik surat pembaca,  digolongkan sebagai surat karena isi teks tersebut biasanya ditujukan kepada seseorang atau sebuah instansi atau organisasi. Teks itu ditulis oleh para pembaca dari media cetak tersebut. Itulah sebabnya dikenal dengan rubrik surat pembaca. Isi surat pembaca sangat beragam. Sebagian besar isi surat pembaca berisi keluhan atau komplain atas sebuah permasalahan. Di samping itu ada juga orang yang mengirim surat pembaca berisi saran atau kritikan, baik kepada media cetak itu sendiri maupun kepada pribadi atau instansi tertentu.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis surat pembaca, antara lain berikut.
1.    Surat pembaca dapat berupa permasalahan akan  sesuatu serta usul atau saran terhadap sesuatu.
2.    Surat pembaca dapat berupa tanggapan terhadap   suatu permasalahan
3.    Surat pembaca tidak bersifat rahasia, karena isi  surat diketahui oleh masyarakat banyak
4.    Surat pembaca ditulis dengan bahasa yang sopan,   jelas, dan komunikatif.

Adapun langkah-langkah menulis surat pembaca adalah berikut,
1.   Menentukan Hal-hal Pokok dalam Surat Pembaca
 Hal-hal pokok yang ada menyangkut  jawaban dari: apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana
2.    Menentukan Permasalahan/Usulan/Saran yang Akan Disampaikan dalam Surat Pembaca
Hal itu dapat berwujud rasa terima kasih, kritikan, pujian, celaan, hinaan, permohonan, penjelasan, dll.
3.  Menulis dan Menyunting Surat Pembaca
Tulislah surat pembaca yang berisi hal-hal yang terkait dengan lingkungan sekolah. Buatlah surat pembaca itu dalam bentuk permohonan maaf  dan ucapan terima kasih sesuai dengan pengalamanmu!

Hal-hal yang secara nyata membedakan surat pembaca dari teks yang lain sebagai berikut.
1. Struktur
Susunan surat pembaca memang berbeda dari surat-menyurat biasa. Dalam surat pembaca alamat tujuan surat pembaca tidak ditulis dalam bagian tersendiri sebagaimana surat biasa. Namun demikian secara tersirat dapat diketahui surat pembaca itu ditujukan kepada siapa.

2. Gaya bahasa
Gaya bahasa surat pembaca sangat beragam, tergantung pada gaya masing-masing pengirim surat. Ada surat pembaca dengan gaya mempertanyakan, menyindir, mengimbau, bahkan ada yang menulis surat pembaca berbentuk puisi atau anekdot.

3. Kesantunan
Apapun gaya penyampaian dalam surat pembaca, yang tak boleh dilupakan adalah kesantunan. Entah itu kritikan, pertanyaan, usulan atau apa pun isinya sebaiknya disampaikan dengan penuh kesantunan agar tidak menyebabkan ketersinggungan pihak yang dituju.

Sumber: BSE

Contoh-Contoh  surat pembaca:

YTH. REDAKSI MADING SEKOLAH
Kamar Kecil Bau
            Beberapa hari saya dan rekan-rekan selalu menyumbat hidung karena aroma tidak sedap yang bersumber dari kamar kecil yang terletak dibelakang ruang kelas kami. Lebi-lebih setela istirahat kedua. Bau tidak sedap ini membuat saya dan beberapa teman merasa tidak nyaman tinggal dikelas, apalagi arus berpikir atau belajar dikelas.
            Saya dan beberapa teman tela menyampaikan kondidi yang memprihatinkan ini kepada Wali Kelas, tetapi ampai saat ini belum ada tindakan untuk mengatasi permasalahan tersebut.
            Lantas kepada siapa kami harus mengadu? Siapaka yang bertanggung jawab atas kebersihan kamar keil tersebut? Apakah ada hal lain yang menyebabkan permasalahan tersebut tidak segera diatasi. Bagaimana bisa belajar dengan baik kalau saya merasa tidak nyaman. Untuk itu, melalui tulisan ini saya mewakili kelas IXmemohon kepada yang bertugas dalam hal tersebut untuk segera mengecek dan menindak lanjuti keluhan kami.




Standar Kompetensi    : 13 Memahami wacana sastra melalui kegiatan mendengarkan pembacaan kutipan/sinopsis novel
Kopetensi Dasar          : 13.1 Menerangkan sifat-sifat tokoh dari kutipan novel yang dibaca

Materi Pembelajaran
Pengertian Novel
Novel adalah salah satu karya fiksi, yang merupakan karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku (menurut KBBI).
Unsur-Unsur Fiksi
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri, unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita.
Unsur Ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar karya sastra itu sendiri, tetapi tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisasi karya sastra.
Unsur Intrinksik:
1)  Tema : merupakan pokok persoalan yang menjiwai seluruh cerita. Tema diangkat dari konflik kehidupan.
2)   : dasar cerita; pengembangan cerita.
3)  Alur: rangkaian cerita
Dalam alur hubungan tokoh bisa rapat yaitu memusat pada satu tokoh; atau renggang yaitu tokoh berjalan masing-masing. Proses alur bisa maju; mundur; atau maju mundur. Penyelesaian Alur ada alur klimaks dan ada alur anti klimaks.
1. Alur maju atau alur lurus, yaitu apabila cerita tersebut disusun mulai dari awal diteruskan dengan peristiwa-peristiwa berikutnya, dan berakhir pemecahan masalah.
2. Alur mundur atau alur sorot balik (flashback) yaitu apabila cerita disusun mulai dari bagian akhir dan bergerak ke depan menuju titik awal cerita.
3.  Alur campuran, yaitu apabila peristiwa-peristiwa yang ada dalam cerita tersebut disusun secara campuran, waktu kini ke waktu lampau dan waktu lampau ke waktu kini.
4)  Latar/Setting : tempat terjadinya cerita, terbagi menjadi :
§  setting geografis ----> tempat di mana kejadian berlangsung
§  setting antropologis ----> kejadian berkaitan dengan situasi masyarakat, kejiwaan pola pikir, adat-istiadat.
5)  Penokohan / Pewatakan : 
adalah pemberian sifat,baik lahir maupun batin pada seorang tokoh atau pelaku yang terdapat pada cerita. Misalnya: ada tokoh yang antagonis (jahat) dan ada tokoh yang protagonist (baik) dan menjadi tokoh utama. Penghadiran tokoh bisa langsung dengan cara melakukan deskripsi, melukiskan pribadi tokoh; atau tidak langsung dengan cara dialog antar tokoh
6)  Sudut pandang : yang mendasari tema dan tujuan penulisan Penghadiran bisa dengan :
-gaya orang pertama---> penulis terlibat sebagai salah satu tokoh
- gaya orang ketiga ---> penulis serba tahu apa yang terjadi tetapi tidak terlibat di dalam cerita.
7)  Suasana : yang mendasari suasana cerita adalah penokohan karena perbedaan karakter sehingga menimbulkan konflik. Dengan konflik pengarang berhadapan dengan suasana menyedihkan, mengharukan, menantang, menyenangkan, atau memberi inspirasi.

*      Kutipan Novel

Si Jamin dan Si Johan
Oleh: Merari siregar

Si jamin menelusuri jalan setapak di tengah teriknya sinar matahari. Ia adalah pengemis kecil yang harus membiayai hidup si johan (adiknya) dan Inem (ibu tirinya yang sangat kejam). Dalam usianya yang begitu muda,ia harus berperang melawan keganasan kota Jakarta.
Suatu hari ia dipukuli Inem (ibu tirinya) karena membawa uang dua puluh Sembilan sen. Kalau saja ibu kandungnya masih hidup, tentu mereka tidak akan menderita seperti ini dan ayahnya pun takkan menjadi pemabuk.
Hari demi hari dilalui Jamin dengan menjadi pengemis dan semua uangnya harus ia serahkan kepada ibu tirinya.
…………………………………………………………………………………………………..
(Sumber, Ikhtisar Roman Sastra Indonesia, 1999,dengan pengubahan)

Standar Kompetensi    : 13 Memahami wacana sastra melalui kegiatan mendengarkan pembacaan kutipan/sinopsis novel
Kopetensi Dasar          : 13.2 Mampu menjelaskan alur peristiwa dari suatu sinopsis novel

Materi Pembelajaran
            Suatu cerita rekaan dapat digolongkan sebagai novel apabila ceritanya lebih panjang dan kompleks daripada cerpen. Selain itu, lebih banyak menyuguhkan tokoh, tampilan peristiwa dan latar. Unsur pembangun novel yaitu intrinsic dan ekstrinsik. Tiga unsure intrinsic yaitu pelaku, latar, dan alur.
A.  Pelaku atau tokoh dan penokohan
~ Tokoh : Individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perilaku didalam berbagai peristiwa dalam cerita.
                                          Sedangkan
~ Penokohan/perwatakan : Penyajian tokoh dan penciptaan citranya Dallam novel.
Penokohan juga dapat dikatakan sebagai proses penampilan tokoh dengan pemberian watak, atau kebiasaan tokoh.
Tokoh ada 2 macam :~ Tokoh utama
                                 ~ Tokoh bawahan
~ Tokoh utama : Selalu ada dalam setiap peristiwa dan banyak berhubungan dengan tokoh                                     lain.
~ Tokoh bawahan : Tokoh sampingan yang sifatnya hannya sebagai sampingan saja.
B.      Latar atau setting
~ Latar : Unsur cerita yang menunjukkan dimana, bagaiman, dan kapan peristiwa itu   berlangsung
~ Latar tempat : Hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah geografis.
Latar waktu : Yang berhubungan denga kehidupan kemasyarakatan.
C.      Alur atau Plot : Jalinan peristiwa didalam novel yang memperlihatkan kepaduan (Konherensi) tertentu yang diwujudkam oleh hubungan oleh hubungan sebuah akibat, tokoh,tema, atau ketiganya. Secara garis besar struktur alur sebuah cerita rekaan diganti menjadi tiga, yang mampu bagian awal, tengah, dan akhir. Bagian awal cerita mengandung 2 hal, yakni pemaparan (eksposisi) dan ketidakmaparan . Bagian pertama terdapat konfllik, komplikasi,klimaks. Adapun bagian akhir alur adalah penyelesaian.

Cara Menjelaskan Alur, Pelaku, dan Latar Novel Serta Implementasinya

Menjelas­kan alur ceri­ta, pelaku, dan latar no­vel (asli atau terjemahan)
Dalam sebuah novel, setiap tokoh memiliki karakteristik yang unik dan berbeda satu dengan yang lain. Karakter tokoh dapat dianalisis melalui dialog antartokoh, deskripsi/gambaran langsung dari pengarangnya, dan pandangan atau sikap tokoh lain terhadap tokoh tersebut. Alur dalam novel merupakan urut-urutan kejadian cerita. Pada pelajaran yang lalu kamu telah mempelajari jenis alur, yaitu alur maju, alur mundur dan gabungan dari dua jenis alur tersebut. Alur memiliki tahapan. Dalam novel, alur biasanya detail dan kompleks. Tahapan alur, antara lain pengenalan cerita, pengenalan konflik, klimaks, antiklimaks, dan berakhir pada penyelesaian.

 

Cara Mengomentari Kutipan Novel dan Implementasinya

Mengo­men­tari ku­tipan novel remaja (asli atau terje­mah­an)
Kutipan novel biasanya mengambil/mengutip sebagian kecil dari sebuah novel. Pada pelajaran terdahulu, kamu telah mempelajari kutipan novel terjemahan. Pada pelajaran kali ini, kamu akan mempelajari bagaimana menanggapi hal-hal menarik dari sebuah kutipan novel asli. Kutipan novel berikut adalah kutipan dari novel Y.B. Mangunwijaya yang berjudul Balada Dara-Dara Mendut. Hal-hal menarik yang akan kamu temukan antara lain tokoh-tokoh dan perwatakan, bahasa yang digunakan, perjuangan, serta sejarah.

Cara Menanggapi Kutipan Novel Remaja dan Implementasinya

Menang­gapi hal yang menarik dari kutipan novel remaja (asli atau terje­mah­an).
Karya novel dibangun oleh beberapa unsur intrinsik. Unsur intrinsik tersebut, antara lain alur cerita, pelaku/penokohan, dan latar kejadian atau peristiwa. Alur merupakan urutan kejadian dalam cerita novel. Alur terbagi dalam tiga jenis, yaitu.
1.      alur maju (progresif), yaitu urutan kejadian mengarah ke masa depan,
2.      alur mundur (regresif/flash back), yaitu urutan kejadian mengarah ke masa lalu,
3.      alur campuran, yaitu alur/urutan kejadian yang merupakan gabungan dua macam alur di atas. Ada alur maju dan ada alur mundur.
Unsur pelaku/penokohan merupakan tokoh yang menjadi pelaku dalam cerita novel. Pelaku atau tokoh tersebut mempunyai karakterisasi masing-masing. Ada yang perwatakannya pemarah, tegas, pemalu dan sebagainya. Latar novel sudah pernah dijelaskan pada pelajaran sebelumnya. Latar dalam novel memiliki tiga kategori, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar suasana.

           
Standar Kompetensi
:
Berbicara
14. Mengungkapkan tanggapan terhadap pementasan drama
Kompetensi Dasar
:
14.1. Membahas pementasan drama yang naskahnya ditulis siswa

Materi Pembelajaran

A.    Membahas Pementasan Drama yang Ditulis Siswa

Unsur-unsur yang terdapat dalam teks drama dan unsur pementasan drama sedikit berbeda. Perbedaan itu antara lain terletak pada latar dan penghayatan tokoh dalam pemeranan. Dalam sebuah pementasan drama kamu dapat mengamati unsur-unsur yang terdapat di dalamnya. Unsur pementasan drama meliputi tokoh, karakter tokoh, alur, latar atau setting (digambarkan dengan tata lampu, tata suara, tata letak, background), tema, pesan/amanat. Dalam pembelajaran
berikut ini kamu akan diajak untuk membahas pementasan drama dengan mencatat unsur-unsur yang menonjol dalam pementasan drama dan memberikan tanggapan terhadap pementasan drama itu.
Lakukan diskusi kelas untuk memerankan naskah drama hasil tulisan salah satu temanmu. Pilihlah naskah drama terbaik yang sudah ditulis. Tentukan para pemain yang tepat untuk memerankan naskah drama tersebut. Apabila para pemain sudah ditentukan mintalah para pemain untuk memerankan drama itu sebaik-baikya. Kalau memungkinkan mintalah mereka untuk menyiapkan pementasan itu sebaik mungkin dengan kostum, tata panggung, dan peralatan pentas lainnya dengan tepat.
1. Mengidentifikasi Unsur Pementasan Drama
Unsur-unsur dalam pementasan drama meliputi alur, tokoh, dialog, setting, tema, pesan/amanat, kostum, tata lampu, tata musik.. Unsur-nsur itu terdapat dalam pementasan drama. Karena unsure-unsur itu terdapat dalam pementasan drama.
a. Plot/alur
Plot/alur juga disebut kerangka cerita, yaitu jalinan cerita atau kerangka cerita dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh atau lebih yang saling berlawanan.
b. Penokohan dan perwatakan
Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. Penokohan merupakan susunan tokoh-tokoh yang berperan dalam drama. Tokohtokoh itu selanjutnya akan dijelaskan keadaan fisik dan psikisnya sehingga akan memiliki watak atau karakter yang berbeda-beda.
c. Dialog (percakapan)
Ciri khas naskah drama adalah naskah itu berbentuk percapan atau dialog. Dialog dalam naskah drama berupa ragam bahasa yang komunikatif sebagai tiruan bahasa sehari-hari bukan ragam bahasa tulis.
d. Latar (tempat, waktu dan suasana)
Latar atau seting yaitu penggambaran waktu, tempat, dan suasana terjadinya sebuah cerita. Penggambaran suasana dalam pementasan dilukiskan dengan tata lampu, tata suara, serta background.
e. Tema (dasar cerita)
Tema merupakan gagasan pokok yang mendasari sebuah cerita. Tema dikembangkan melalui alur dramatik dalam plot melalui tokoh-tokoh antagonis dan protagonis dengan perwatakan yang berlawanan sehingga memungkinkan munculnya konflik di anatara keduanya.
f. Amanat
Sadar atau tidak sadar pengarang naskah drama pasti akan menyampaikan sebuah pesan tertentu dalam karyanya. Pesan itu dapat tersirat dan tersurat. Pembaca yang jeli akan mampu mencari pesan yang terkandung dalam naskah drama. Pesan dapat disampaikan melalui percakapan antartokoh atau perilaku setiap tokoh.

2. Menentukan Unsur Drama yang Dianggap

Menonjol dengan Menunjukkan Bukti Pendukung Sesuatu itu menarik atau tidak menarik karena sesuatu itu memiliki keistimewaan atau sebaliknya memiliki kelemahan atau kekurangan.Hal ini juga berlaku untuk pementasan atau pertunjukkan drama.

3. Mengidentifikasi Karakter Tokoh Dalam
Pementasan Drama
Dengan memperhatikan pementassan drama yang dipertunjukkan teman-temanmu, kamu dapat mengidentifikasi karakter tokoh-tokohnya. Kamu tentu masih ingat melalui karakter tokoh yang berbeda atau bahkan berlawanan itulah konflik antartokoh muncul. Katika konflik sudah terjadi, peristiwa-peristiwa akan semakin memuncak danmencapai klimaksnya, kemudian biasanya diakhiri dengan penyelesaian.
Dalam rangkaian peristiwa itulah muncul tokoh-totoh yang berlainan karakternya. Ada tokoh yang baik, tokoh yang jahat, dan ada juga tokoh yang berfungsi sebagai penengah ketika terjadi konflik antara tokoh baik dengan tokoh jahat.
Karakter tokoh-tokoh dalam pementasan drama dapat dilihat dari dialog tokoh itu, percakapan tokoh lain mengenai tokoh itu, bentuk fisik, pakaian atau segala sesuatu yang dikenakan tokoh, serta gerak-gerik tokoh.

4. Mendeskripsikan Fungsi Latar Dalam Pementasan Drama
Latar dalam drama merupakan sesuatu yang melatari terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar atau setting dalam pementasan drama meliputi:
a. waktu terjadinya peristiwa
b. tempat berlangsungnya kejadian-kejadian
c. suasana yang menggambarkan atau melkusikan peristiwa itu terjadi.
5. Menanggapi Hasil Pementasan Drama dengan
Argumen yang Logis
Penonton drama yang baik tidak begitu saja menerima atau menelan segala sesuatu yang ditontonnya. Ia akan kritis terhadap hal-hal yang sekiranya tidak sesuai dalam pementasan itu. Ia akan mengikuti adegan demi adegan, dialog demi dialog, kostum pemain, penataan cahaya, penataan musik, serta penataan suara dengan cermat. Penonton yang kritis seperti itu tidak akan mudah larut dalam suasana. Ia akan mampu memberikan tanggapan dengan argumen yang logis terhadap pementasan itu.
Dalam kegiatan ini kamu dituntut untuk mampu menjadi penonton yang
aktif dan kritis dalam sebuah pementasan drama. Cermatilah dengan baik adeganadegan, dialog, tata panggung, tata lampu, musik, serta tata suara dalam pementasan drama. Dengan pengamatan yang cermat kamu akan mampu memberikan tanggapan yang tepat dengan argumen yang dapat diterima akal terhadap pementasan drama itu. Tanggapan harus disampaikan secara objektif, bijak, jernih, tidak emosional, serta dengan bahasa yang santun dan komunikatif.



Standar Kompetensi
:
Berbicara
14. Mengungkapkan tanggapan terhadap pementasan drama
Kompetensi Dasar
:
14.2. Menilai pementasan drama yang dilakukan siswa

Materi Pembelajaran

ü  Pementasan Drama

Menilai Pementasan Drama – Siswa mampu menilai pementasan drama yang dilakukan oleh siswa.
Perhatikan gambar berikut ini!
Gambar di atas merupakan salah satu pementasan drama. Di dalam gambar tampak para pemain sedang memeragakan adegan. Terdapat enam pemain di atas panggung. Pemeran perempuan tampak dikerubungi wartawan yang mewawancarainya. Beberapa pemeran wartawan memfoto dan merekam video dengan alat yang digunakannya. Pemain tersebut diketahui sebagai wartawan karena menggunakan properti drama yang menyerupai kamera.
Demikian salah satu contoh penilaian terhadap pementasan drama. Kamu pun dapat menilai suatu pementasan drama yang ditonton secara lebih lengkap. Sebagai contoh, kamu dapat menilai pementasan drama yang dilakukan oleh teman-temanmu sendiri. Menilai pementasan drama yaitu menunjukkan kelebihan dan kekurangan dari pementasan drama yang ditonton. Penilaian terhadap pementasan drama tersebut harus bersifat objektif, yaitu menilai secara apa adanya sesuai dengan apa yang ditampilkan.
Sebelum menilai pementasan drama, kamu perlu mengetahui unsur-unsur apa saja yang akan dinilai dalam pementasan drama. Pada pelajaran sebelumnya, telah dipelajari unsur-unsur yang akan dinilai dalam pementasan drama. Setelah memahami unsur-unsur tersebut, sekarang saatnya kamu melakukan penilaian terhadap pementasan drama yang dilakukan oleh teman-temanmu.
Berikut aspek-aspek penilaian pementasan drama berdasarkan unsur-unsurnya.
1) Tema
Tema adalah ide utama cerita drama yang dipentaskan. Tema yang baik adalah tema yang menarik bagi penontonnya. Salah satu ciri tema yang menarik adalah mampu membuat penonton menikmati pementasan hingga akhir.
2) Amanat
Amanat adalah pesan moral atau pelajaran yang dapat diambil setelah menonton pementasan tersebut. Penonton dapat mengambil pelajaran dari drama yang ditontonnya secara berbeda-beda.
3) Pemain
Penilaian terhadap pemain drama dapat dilakukan dengan memerhatikan seluruh jalan cerita drama tersebut. Penilaian terhadap pemain mencakup beberapa hal berikut ini.
  • Penjiwaan para pemain dalam memeragakan karakter tokoh yang diperankan
  • Ekspresi wajah pemain sesuai dengan karakter yang diperankan
  • Pelafalan atau artikulasi, yaitu kejelasan pengucapan dialog pemain
  • Intonasi, yaitu ketepatan tinggi rendahnya suara yang diucapkan
  • Volume suara, yaitu nyaring pelannya suara pemain
4) Tata rias
Penilaian terhadap tata rias mencakup kesesuaian riasan yang digunakan dengan karakter tokoh yang diperankan oleh pemain. Misalnya, seorang anak berusia 14 tahun dapat diubah menjadi tampak seperti seorang kakek dengan riasan yang baik.
5) Tata Busana atau Kostum
Penilaian terhadap tata busana atau kostum dalam pementasan drama mencakup kostum yang digunakan para pemain. Apakah kostum tersebut mewakili karakter yang diperankan oleh pemain tersebut? Apakah kostum tersebut mendukung jalan cerita secara keseluruhan?
6) Tata Panggung
Penilaian terhadap tata panggung mencakup kesesuian penataan panggung dengan latar cerita dalam drama. Situasi di atas panggung harus menggambarkan tempat, waktu, dan suasana yang sesuai dengan cerita yang dimainkan. Selain itu, penggunaan properti drama juga harus sesuai dan mendukung jalannya cerita drama yang dipentaskan.
7) Tata Suara
Penilaian terhadap tata suara mencakup kesesuaian bunyi dan musik dengan cerita dalam drama. Bunyi dan musik dalam pementasan drama harus mendukung cerita yang dimainkan.
8) Tata Lampu
Penilaian terhadap tata lampu mencakup kesesuaian pengaturan cahaya atau lampu dengan situasi yang digambarkan dalam drama. Sama halnya dengan tata panggung dan suara, tata lampu juga harus mendukung cerita drama yang dimainkan.

Poin Penting

  1. Drama adalah salah satu bentuk karya sastra yang berisi lakon hidup manusia yang ditulis dalam bentuk dialog dan dapat dipentaskan.
  2. Menilai pementasan drama harus dilakukan secara objektif, yaitu menilai apa adanya sesuai dengan yang ditampilkan.
  3. Pementasan drama dapat dinilai berdasarkan unsur-unsurnya, yaitu tema, amanat, pemain, tata rias, tata busana, tata panggung, tata suara, dan tata lampu.

Standar Kompetensi
:
Membaca
15. Memahami novel dari berbagai angkatan
Kompetensi Dasar
:
15.1. Mengidentifikasi kebiasaan, adat, etika yang terdapat dalam buku novel angkatan 20-30an

Materi Pembelajaran

Mengidentifikasi Kebiasaan, Adat, dan Etika dalam Novel Angkatan 20 dan 30-an
a. Adat
Adat adalah suatu aturan/peraturan yang lazim diturut/dilakukan sesuai dengan situasi dan waktu tertentu. Adat diartikan sebagai hukum tak tertulis sehingga bersifat mengikat masyarakat penggunanya. Adat inilah yang akan menentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Jika tokoh mematuhi adat yang berlaku, maka ia dianggap tokoh yang baik dan layak ditiru. Sebaliknya, jika ada tokoh yang menentang atau tidak taat adat biasanya akan dijauhi atau dihukum sesuai adat yang berlaku.
b. Kebiasaan
Kebiasaan merupakan budaya atau tradisi masyarakat yang turun-temurun dilakukan. Kebiasaan terkait latar belakang budaya dalam cerita.
c. Etika
Etika berkaitan dengan apa yang dianggap baik atau buruk, atau sopan-tidak sopan pada kebiasaan tokoh-tokoh ceritanya. Etika berkaitan dengan moral atau perilaku yang terpengaruh oleh adat dan kebiasaan.
d. Bahasa
Bahasa yang digunakan pada karya sastra Angkatan 20-an dipengaruhi oleh bahasa daerah. Penggunaan ungkapan dan perbandingan sebagai bentuk kiasan banyak dijumpai dalam karya sastra angkatan 20-an.

MENGIDENTIFIKASI KARAKTERISTIK NOVEL TAHUN 20-30 an

NOVEL ANGKATAN 20 an
NOVEL ANGKATAN 30 an
Menggunakan bahasa Indonesia yang masih terpengaruh Melayu
Sudah menggunakan bahasa Indonesia
Persoalan yang diangkat persoalan adat kedaerahan dan kawin paksa
Menceritakan kehidupan mesyarakat kota, persoalan intelektual, emansipasi (struktur cerita / konflik sudah berkembang)
Dipengaruhi kehidupan tradisi sastra daerah/lokal
Pengaruh budaya barat mulai masuk dan berupaya melahirkan budaya Nasional
Cerita yang diangkat seputar romantisme
Menonjolkan nasionalme, romantisme, individualisme, dan materialisme

Contoh :
MENGIDENTIFIKASI KEBIASAAN, ADAT, DAN ETIKA DALAM NOVEL 20-30an

Novel Azab dan Sengsara (20an)
ETIKA
ADAT
KEBIASAAN
Suami kadang menyiksa istri
Kehidupannya bergotong royong
Telekomunkasi jarak jauh asih menggunakan surat atau telegram
Orang berpacaran mesih sopan
Pernikahan masih menggunakan sistem perjodohan
Pernikahan dipandang dari bibit, bebet, dan bobot
Anak patuh terhadap orangtuanya, walaupun keinginan orangtuanya tidak sesuai dengan keinginannya
Masih percaya pada takhayul atau animisme dan dinamisme
Anak laki-laki biasanya pergi merantau untuk mencari pekerjaan
Anak membantu pekerjaan orangtuanya
Persaudaraan masih dipandang dari harta

Novel Sengsara Membawa Nikmat (30an)
ETIKA
ADAT
KEBIASAAN
Agama dijunjung tinggi(terutama Islam)
Mengenai warisan, harta benda yang ditinggalkan oleh yang meninggal menjadi hak/diambil alih oleh keluarga asal bukan keluarga setelah menikah (Sumatra)
Para Pemuda memainkan permainan sepak raga (prmainan bola kaki)
Kehidupannya bergotong royong
Aturan adat sangat ketat, dan bagi yang melanggar hukumannya berat
Masih jaman penjajahan Belanda
yang berkuasa sering semena-mena, bahkan berbuat kejam
Penyerahan kekuasaan terhadap penerusnya dalam suatu daerah diserahkan oleh pemegang jabatan/kekuasaan sebelumnya
Hampir semua pemuda di daerah tersebut mengenal ilmu bela diri
Banyak penduduk yang tidak bisa membaca


Standar Kompetensi
:
Membaca
15. Memahami novel dari berbagai angkatan
Kompetensi Dasar
:
15.2. Membandingkan karakteristik novel angkatan 20-30an

Materi Pembelajaran
Sejarah sastra Indonesia mencatat bahwa pada kurun waktu 1920-1930 telah dihasilkan novel-novel yang menjadi tonggak sejarah sastra Indonesia. Para pakar sastra menggolongkan novel angkatan 20-30an sebagai novel tradisi Balai Pustaka. Disebut novel tradisi Balai Pustaka karena novel-novel itu merupakan kelanjutan dari karya-karya sastra terbitan Balai Pustaka. Sedang angkatan tahun 1920 sendiri lebih dikenal sebagai Angkatan Siti Nurbaya, karena ditandai dengan novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli yang sangat terkenal. Karakteristik atau ciri khas dari sebuah karya sastra sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi kehidupan masyarakat pada waktu itu. Kalian tentu tahu bahwa pada tahun 20-30an Indonesia masih dalam cengkeraman pemerintah kolonial Belanda.Penindasan kaum kolonial telah memposisikan manusia Indonesia waktu itu sebagai budak dan memunculkan feodalisme.
Kondisi masyarakat memunculkan dua kelompok masyarakat yaitu kelompok orang kaya/saudagar kaya dengan kelompok rakyat miskin. Perbedaan seperti memicu munculnya banyak kisah sebagai ciri karya prosa tahun 20-30an.
Berikut contoh perbandingan dua buah novel angkatan 20-30an.
Unsur yang DibandingkanTemaLatar Alur cerita Novel Siti Nurbaya Anak perawan yang harus menikah dengan lelaki tua untuk menutup hutang orangtuanya kepada lelaki itu.Terjadi pada masyarakat Minangkabau,Padang, dan ebagian cerita di Jakarta.Diakhiri dengan kematian tokoh utama Siti Nurbaya dan Syamsulbahri.
Novel Azab dan Sengsara
Anak perjaka dijodohkan paksa oleh orangtuanya karena orang tuanya tidak menyetujui gadis pilihan anaknya yang berasal dari keluarga miskin. Terjadi pada masyarakat Minangkabau, daerah Siporok, Padang, dan Medan Sumatera Utara. Diakhiri dengan kesengsaraan tokoh utama Mariamin.
Karakteristik atau ciri khas dari sebuah karya sastra sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi kehidupan masyarakat pada waktu itu. Tahun 20-30an Indonesia masih dalam cengkeraman pemerintah kolonial Belanda. Kondisi masyarakat memunculkan dua kelompok masyarakat yaitu kelompok orang kaya/saudagar kaya dengan kelompok rakyat miskin. Perbedaan seperti memicu munculnya banyak kisah sebagai ciri karya prosa tahun 20-30 an.
Novel zaman sekarang ini sangat jauh berbeda dengan novel-novel pada angkatan 20-an hingga 30-an. Salah satu perbedaannya adalah “novel-novel pada zaman sekarang ini banyak menggunakan bahasa-bahasa modern yang sangat mudah untuk dipahami oleh pembaca. Berbeda dengan novel angkatan 20-an hingga 30-an, di mana novel-novel tersebut sangat banyak menggunakan bahasa-bahasa daerah. Khususnya untuk novel ini yang sangat banyak menggunakan istiah bahasa Melayu khususnya bahasa Minangkabau. sehingga sulit untuk dipahami.
Novel-novel zaman dahulu juga menyampaikan kepada kita mengenai cara-cara berhubungan dan bersosialisasi satu sama lain terutama antara laki-laki dan perempuan yang sesuai dengan ajaran agama,tata karma, norma, dan adat istiadat yang berlaku di daerah setempat. Sedangkan novel zaman sekarang tidak mencantumkan hal-hal seperti itu. Bahkan dengan membaca novel-novel tersebut kita akan terpengaruh untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama, adat istiadat, norma dalam bergaul dengan sesama khususnya dengan teman lawan jenis.

Novel Angkatan 20 - 30 an
Sastra Indonesia secara umum terbagi oleh beberapa periode, yaitu angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, angkatan 1945, angkatan 1950, angkatan 1966, dan angkatan 1970 sampai dengan sekarang. Berikut ini beberapa karya sastra angkatan 20 - 30 an.
No.
Nama Pengarang
Hasil Karya
1.
Merari Siregar
Azab dan Sengsara (1920), Binasa kerna Gadis Priangan (1931), Cinta dan Hawa N*fsu
2.
Marah Roesli
Siti Nurbaya (1922), La Hami (1924), Anak dan Kemenakan (1956)
3.
Muhammad Yamin
Tanah Air (1922), Indonesia, Tumpah Darahku (1928), Kalau Dewi Tara Sudah Berkata, Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
4.
Nur Sutan Iskandar
Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923), Cinta yang Membawa Maut (1926), Salah Pilih (1928), Karena Mentua (1932), Tuba Dibalas dengan Susu (1933), Hulubalang Raja (1934), Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
5.
Tulis Sutan Sati
Tak Disangka (1923), Sengsara Membawa Nikmat (1928), Tak Membalas Guna (1932), Memutuskan Pertalian (1932)
6.
Djamaludin Adinegoro
Darah Muda (1927), Asmara Jaya (1928)
7.
Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati
Pertemuan (1927)
8.
Abdul Muis
Salah Asuhan (1928), Pertemuan Djodoh (1933)
9.
Aman Datuk Madjoindo
Menebus Dosa (1932). Si Cebol Rindukan Bulan (1934), Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

Perbandingan Karakteristik
Karya-karya yang ada pada angkatan balai pustaka memang dibuat sedemikian rupa agar tidak menyinggung perpolitikan kaum kolonial. Karya-karya dari balai pustaka disortir secara ketat untuk mengurangi kemungkinan ada karya-karya yang berbau menentang pemerintahan kolonial. Berikut contoh perbandingan dua buah novel angkatan 20-30an
No.
Unsur yang Dibandingkan
Novel Azab dan Sengsara
Novel Siti Nurbaya
1.
Tema
Anak perjaka dijodohkan paksa oleh orangtuanya karena orang tuanya tidak menyetujui gadis pilihan anaknya yang berasal dari keluarga miskin.
Anak gadis yang harus menikah dengan lelaki tua untuk menutup hutang orangtuanya kepada lelaki itu.
2.
Latar
Terjadi pada masyarakat Minangkabau, daerah Siporok, Padang, dan Medan Sumatera Utara.
Terjadi pada masyarakat Minangkabau, Padang, dan sebagian cerita di Jakarta.
3.
Alur Cerita
Diakhiri dengan kesengsaraan tokoh utama Mariamin.
Diakhiri dengan kematian tokoh utama Siti Nurbaya dan Syamsulbahri.
4.
Keterkaitan dengan kehidupan masa sekarang
Sebagian masyarakat memang masih ada yang memilihkan jodoh untuk anaknya.
Sudah tak ditemukan orang tua yang mengorbankan anaknya untuk mengembalikan utang.



Standar Kompetensi    : 16 Menulis naskah drama
Kopetensi Dasar          : 16.1 Menulis naskah drama berdasarkan cerpen yang sudah dibaca

Materi Pembelajaran
ü  Menulis naskah drama berdasarkan cerpen yang sudah dibaca
Langkah-langkah Mengubah Cerpen Menjadi Teks Drama
1. Baca naskah cerpen dengan saksama! 
2. Hayati tema cerpen.
3. Tentukan tokoh dan pahami karakternya sebagai tokoh drama! 
4. Tentukan tempat dan waktu peristiwa dalam cerpen  sebagai latar drama!
5. Tentukan urutan kejadian/peristiwa yang terjadi dalam  cerpen sebagai alur drama!
6. Bagi cerpen menjadi beberapa bagian penting yang  melandasi cerita lalu ubah menjadi babak untuk  memaparkan peristiwa.
7. Menyusun dialog berdasarkan konflik yang terjadi  antartokoh.
8. Membuat deskripsi-deskripsi untuk menjelaskan latar,  akting atau lighting.
9. Baca dan sempurnakan naskahmu!
Pemilihan Cerpen untuk Dijadikan Naskah Drama
- Pilih tema atau cerita yang menarik.
- Pilih cerita yang dapat diubah menjadi dialog 
antartokoh.
- Pahami isi cerita /tema cerpen sebelum diubah 
menjadi bentuk drama.
- Ciptakan bentuk-bentuk dialog dengan diksi 
yang menarik.
Unsur Naskah Drama
1. Plot/Alur
2. Penokohan dan perwatakan
3. Dialog
4. Seting
5. Tema
6. Amanat
7. Petunjuk Teknis


Standar Kompetensi    : 16 Menulis naskah drama
Kopetensi Dasar          : 16.2. Menulis naskah drama berdasarkan pristiwa nyata

Materi Pembelajaran
Naskah drama adalah satu cerita tertulis untuk dipentaskan di panggung, layar, atau radio. Naskah drama sendiri merupakan salah satu yang perlu dipersiapkan dalam sebuah pementasan drama.
Naskah drama ditulis menggunakan kalimat-kalimat langsung yang lengkap dengan penjelasan mengenai sikap, gerakan, latar dan cara pengungkapan kalimat yang harus dilakukan oleh para pelakunya.
Naskah drama juga dapat ditulis berdasarkan peristiwa nyata. Walaupun berdasarkan peristiwa nyata naskah drama dapat ditambahkan dengan kreativitas daya imajinatif sang penulis.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menulis naskah drama aalah sebagai berikut:
1.         Mengembangkan inti cerita menjadi lebih menarik dengan bentuk dialog
2.         Menciptakan tokoh-tokoh dengan karakter yang menarik
3.         Memilih diksi yang menarik dan tepat untuk membawakan cerita
Cara menulis drama berdasarkan peristiwa nyata adalah:
1.         Menentukan peristiwa yang menarik, yaitu peristiwa yang memberikan kesan mendalan.
2.         Memilih dan menentukan tema
3.         Memilih judul dan membuat kata pembuka. Judul sebaiknya tidak terlalu panjang dan menarik. Kata pembuka lebih bagus lagi jika bersifat bombastis (berlebihtan) supaya pembaca tertarik mengikuti cerita selanjutnya.
4.         Membuat kerangka dengan memasukkan konflik
5.         Menentukan pelaku
6.         Menyusun jalinan cerita yang mengandung perkenalan tokoh dengan konflik dan penyelesaiannya.
7.         Menyusun kramagung dan wawancang. Kramagung adalah perintah kepada pelaku untuk melakukan sesuatu yang ditulis sebagai petunjuk dalam bermain drama. Wawancang ditulis lepas dan mengandung semua perasaan pelakunya.
Penulisan drama tentu berbeda dengan naskah cerita lainnya. Adapun penjelasan tentang naskah drama adalah sebagai berikut:
1.         Naskah drama disajikan dalam bentuk pementasan adegan. Babak terdiri atas beberapa adegan. Pergantian pelaku merupakan tanda pergantian adegan dalam satu peristiwa.
2.         Penulisan drama dapat diawali dengan sebuah prolog sebagai pengantar dan epilog sebagai penjelasan akhir cerita.
3.         Dialog ditulis dengan diawali tokoh yang berbicara atau berlaku. Tanda titik dua sebagai pemisah antara pelakud engan kalimat yang diucapkan. Terdapat beberapa naskah drama yang telah diadaptasikan ditulis dalam bentuk paragraf.
4.         Petunjuk lakuan atau tindakan ditulis dalam dialog tokoh yang berlaku dengan diberikan tanda kurung.
5.         Penulisan keterangan dan petunjuk lakuan dalam pergantian babak atau perpindahan adegan dapat ditulis seperti paragraf di akhir dialot antar tokoh.

           





Tidak ada komentar:

Posting Komentar